Thursday, August 30, 2012

Dimensi Lain.


Pernah punya pengalaman bertemu dengan orang yang karakternya kompleks? Semacam mind-manipulator, stubborn, introvert, sensitive, deep thinker, analyzer, yet super caring and passionate?

Saya pernah!
Bukan hanya bertemu malah, hampir dapat dikatakan "(cukup) kenal baik".
Kenapa saya menggunakan kata "cukup", karena apa yang bisa saya jelaskan dari seorang introvert? Jika yang saya lihat darinya hanyalah sedikit pengetahuan tentangnya ditambah beberapa asumsi yang berdasarkan pada fakta aktual yang jarang terlihat.

Hah!

Hampir putus asa rasanya mengimbangi langkahnya.
Terlebih dengan sifat saya sendiri yang sangat Aries (iya, ini agak-agak non-logis), tapi begitulah. Saya orangnya bisa sangat optimis, independen, stubborn, suka berkonfrontasi (baca: kurang suka mengalah kalau berdebat dengan orang yang saya anggap penting. haha!), risk-taker sejati, bisa sangat menganalisis sesuatu, bisa juga sembrono banget, dan... kemudian saya harus bertemu dengan orang se-kompleks ini.

Terkadang saya membenarkan permainan semesta yang mempertemukan saya dengan orang yang berbeda kutub dengan saya ini. You know.. di dalam dunia ini selalu diciptakan berpasang-pasangan. Yin and Yang. Tujuannya tak lain tak bukan adalah untuk menyeimbangkan segala sesuatunya.

Tapi sepertinya dia terlalu kompleks bagi saya, dan saya pun sepertinya hanya akan menambah ke-kompleks-an kehidupannya.

Dia merasa sangat nyaman dengan kehidupannya yang sangat hati-hati, sedangkan ketika bersama saya, terkadang saya ajak untuk jatuh bebas ke dunia antah-berantah yang mengejutkan dan punya sisi kebahagiaan yang belum pernah dia definisikan sebelumnya. Tapi kembali lagi.. di dekat saya, hidupnya merasa terancam. Mungkin karena saya akan menariknya kuat ke dalam dimensi lain, dan mungkin dengan demikian dia akan semakin memperlihatkan wajah aslinya.

Iya, baginya ini adalah zona yang tidak aman..

However, both of us never know how life will take us.. what the future holds.. 
Apart from that, no matter what it will be, at last time will say, won't it?
read more “Dimensi Lain.”

Tuesday, August 28, 2012

Dua Kursi Kosong.


Barangkali, ilmu menerka adalah ilmu yang paling mudah sekaligus membahayakan.
Barangkali, berandai-andai dengan masa depan, adalah candu yang paling gila.
Merasuki dengan mudah, lalu bermetastasis.
Mendekam di alam bawah sadar dan mengubah pandanganmu pada hal-hal yang nyata.

Seperti dua kursi kosong, yang seharusnya kosong.
Namun ternyata penuh sesak dengan rangkaian cerita.
Yang rangkaiannya terbuat dari sampah-sampah kenangan.
Yang bahannya adalah sederet janji yang utopis.

Dua kursi kosong itu tidak pernah punya paham "seharusnya"
Seharusnya kita berada di sana.
Seharusnya kita tenggelam dalam balutan sinar matahari senja
Atau seharusnya kita mabuk dalam cinta yang meronakan wajah.

Ah, gila.
Karena sebaik apapun pengandaian,
Toh nyatanya tangan kita berbalut rindu yang berbeda arah.
Aku menggenggammu.
Namun kau kepadanya.

Sebenarnya, semesta ini sedang punya rencana apa, sayang?




---
Oia, 3 Agustus 2012.

read more “Dua Kursi Kosong.”

Monday, August 27, 2012

Rollercoaster.

Oia, Santorini. 8.00PM. 3 Agustus 2012.

Entah sejak kapan blog ini ditinggalkan lagi untuk kembali dipenuhi sarang laba-laba. Mau bagaimana lagi, jika waktu 24 jam hampir tersita dengan seluruh kerja keras perkuliahan yang notabene harus dilakukan demi menghindari kekecewaan sponsor. Iya, semenjak mendapat kesempatan hijrah ke Belanda, saya punya tanggung jawab yang besar untuk menyelesaikan perkuliahan sebaik mungkin dan setepat waktu mungkin. Tiga hari setelah graduation, harus rela didepak dari tanah Eropa yang (mulai dirasakan) nyaman ini.

Meski tanah Eropa nyaman, tapi sepertinya langit Belanda lebih mirip langit Makkah. Tiap perbuatan, rasa-rasanya cepat dapat balasannya. Baik itu dalam konteks kebaikan, atau konteks agak-sedikit-kurang-baik. Baru 6 bulan di sini, hidup seperti naik rollercoaster. Setiap hari.

Beberapa waktu lalu saya kehilangan Eyang Putri saya untuk selama-lamanya. Beliau sakit dan sempat dirawat di rumah sakit selama seminggu. Tuhan rupanya sangat sayang pada Beliau. Sakitnya dihilangkan dengan cara mengambil kembali beliau ke dekatNya. Kami sekeluarga tentu saja harus ikhlas, karena mungkin jalan inilah yang paling baik buat beliau. Tapi, ternyata menghadapi kehilangan seperti ini sama sekali tidak mudah bagi saya, terlebih dengan kondisi jarak yang membentang cukup jauh antara Indonesia dan Belanda.

Saya tidak akan bisa serta merta bisa pulang ke Indonesia, karena selain harga tiket mahal, juga kembali aktivitas perkuliahan pada saat itu sedang genting-gentingnya. Project hampir menyita kehidupan seluruh periode 6, belum ditambah presentasi dan pembuatan laporan. Intinya, 24 jam saya setiap harinya hanya didedikasikan untuk kampus. Tapi ini juga sebenarnya sangat baik sih, jadi kondisi hati yang pada saat itu tengah remuk redam, bisa teralihkan.

See? 6 bulan di sini, perkuliahan menggila, tidak sempat berbicara dengan Eyang Putri untuk terakhir kalinya, harus ditambah pula patah hati. Langit macam apa pula ini tempat saya bernaung? :)))

Maka dari itu, ketika summer holidays ada di depan mata, senangnya bukan main! Ibaratnya adrenalin seperti terproduksi berlebih. Mungkin kalau saya kelinci atau kangguru, pasti akan berjalan sambil loncat-loncat saking senangnya.

Akhirnya entah kerasukan dewa-dewi apa, pada saat itu saya memutuskan untuk booking tiket ke Yunani, dengan pilihan tanggal, pas... bulan puasa!

Jeng jeng!

Terlalu lama bermukim di Wageningen rasa-rasanya membuat otak semakin tidak sehat! Lebih tidak warasnya lagi, saya akan ke sana seorang diri!

Iya, teman-teman yang semula tertarik dengan Yunani mengundurkan diri dengan baik dan benar, tepat sebelum tiket dibooking.

Ya sudah, berbekal hasil kumpulan artikel dari beberapa website perjalanan terkemuka yang cuma saya copy-paste dan saya print (baru dibaca ketika sudah berada di Yunani), saya nekat ke sana seorang diri. Delapan hari saya di Yunani, dengan mengambil rute Wageningen-Berlin-Utrecht-Wageningen-Brussel-Yunani-Brussel-Utrecht-Wageningen.

Rutenya panjang? Iya, memang! Sama panjangnya dengan cerita dibalik itu. Intinya yang penting saya sampai Yunani! Haha!

Terus kenapa Yunani? Ada dua alasan; yang pertama tentang mitos dan sejarahnya, yang kedua tentang cinta.

Perjalanan ke Yunani menyenangkan. Sangat menyenangkan malah. Mungkin walaupun saya adalah orang yang bertipikal short-term-memory person, tapi untuk urusan yang ini, mungkin saya akan mengingatnya jauh lebih lama dari yang pernah saya bayangkan.

Penduduk lokalnya yang sangat friendly. Saya bertemu teman baru yang hingga kini masih sering kontak. Namun yang lebih penting, mimpi saya ke Yunani tercapai dan ada cinta yang saya tinggalkan di sana. Bukan untuk dirutuki, disesali, atau dibuang, tapi dititipkan untuk saya ambil kembali nanti.

Sepertinya, Aphrodite tidak keberatan harus menanggung satu hati lagi yang sedikit lebam biru di sana-sini.



D.Srikandi
read more “Rollercoaster.”

Wednesday, July 4, 2012

An Eternal Storage.




Life teaches me the art of losing in these recently times. 
It teaches me how to be grateful in the pouring of tears. 
It teaches me smile when a hope is swept away. 
It teaches me that I can be so late to say thank you or I love you. 
It reminds me that the prayer is the closest thing to hold the beloved ones. 
It reminds me that I should be prepared saying a hello for a goodbye. 
It reminds me of You--God, the great Director.

Goodbye, dear grandma.. 
Your love and your kindness will always be there. 
Inside something eternal that we named it as heart..




--
Could I ask forgiveness for not flying back to Indonesia, Eyang?
read more “An Eternal Storage.”

Wednesday, June 13, 2012

Human Nature.

We are only two strangers made by nature. 
Time is folded in a perfect pattern as it's the Universe's conspiracy. 
Smiles, laughs and private conversations are the stories. 
We were happy, effortlessly. 

Time passes, Some stories end up as a fairy tale. 
Some stories become an irony. 
Some stories are just another history. 

Now, strangers become strangers. 
That's how life teaches us if there's nothing lasts forever. 
Not even the happiness, nor sadness. 

We are only human, dear half. 
Designed by nature, 
to feel like the human being. 


read more “Human Nature.”

Sunday, March 18, 2012

Tujuh Musim.


Saya adalah orang yang begitu mencintai angkasa. Alasannya sederhana, karena ia mampu menampung semua kata-kata, impian dan entah berapa ratus perasaan lain yang sering kali singgah dalam kepala atau hati.

Mungkin terkesan konyol, tapi saya percaya bahwa angkasa adalah tempat penyimpanan paling hebat. Lihat saja, sampai sekarang belum ada data empiris yang menyatakan tentang nilai luasnya angkasa. Jadi, kamu bisa bayangkan, berapa banyak data yang bisa kamu titipkan ke angkasa.

Dulu, dulu sekali. Di tengah ribuan data-data saya di angkasa, saya pernah mencatutkan satu hal; hidup di luar Indonesia. Pikir saya waktu itu, saya ingin membuat boneka salju super besar yang berbahan asli dari butir-butir es dari langit Tuhan. Karena hingga saat ini, Indonesia masih merupakan negara yang tropis, satu-satunya solusi untuk membuat boneka salju super besar adalah, hanya dengan tinggal di negara empat musim. Tidak untuk selamanya tentu saja karena saya terlalu cinta Indonesia. Tapi setidaknya cukup satu atau bulan ketika musim salju tiba.

Lalu, masih di waktu yang sama. Pada jaman dulu, dulu sekali.
Saya juga menyimpan kata-kata ini di angkasa; mau berbicara bahasa Inggris setiap hari. Alasan saya sederhana, karena nilai Bahasa Indonesia saya sejak SMP hingga SMA, tidak pernah lebih baik jika dibandingkan dengan nilai Bahasa Inggris. Bahasa Inggris mungkin jauh lebih sederhana. Setidaknya ia tidak memiliki majas personifikasi, metonimia, litotes, totem prototo atau pras proparte. Jangan pernah tanyakan bagaimana perbedaan di antaranya. Yang masih jelas di kepala, hanya majas personifikasi saja.

Berikutnya, saya pernah menuliskan kata-kata ini juga; terlibat lagi dalam pendidikan formil, merasakan kembali masa-masa begadang mengerjakan tugas atau persiapan ujian di perkuliahan, mendaratkan kaki di lebih dari separuh negara-negara di Eropa dengan tanpa mengeluarkan biaya sedikitpun, lalu jatuh cinta.

Hingga pada akhirnya, tanggal 31 Januari 2012 tiba. Pada saat itu, saya merasakan romantisme luar biasa dengan angkasa. Langit tentu saja tidak sedang hujan strawberry, dia hanya menjatuhi saya dengan sederetan kata yang pernah saya titipkan di sana. Tentu saja Tuhan yang menjatuhkannya.

Dalam hampir enam belas jam perjalanan mengarungi angkasa, saya hanya tersenyum dan menangis haru. Karena sesungguhnya, ada banyak kata yang saya benar-benar sudah lupa jika pernah menitipkannya di langit, tapi pada hari itu sepertinya hujan kata-kata saya, turun dengan derasnya.

Tuhan begitu baik. Dia memberikan kesempatan kepada saya untuk menjejakkan kata-kata tadi ke bumi. Yang lebih hebat lagi, Dia menjatuhkannya dalam waktu yang luar biasa tepat. Tidak satu tahun yang lalu, atau tidak tiga tahun kemudian.

Ah.. Tuhan memang selalu baik.

Saat ini, hampir dua bulan saya menginjakkan kaki di Belanda. Waktu yang masih singkat tapi sudah dipenuhi dengan ratusan peristiwa yang mengejutkan. Lagi-lagi, Tuhan selalu penuh misteri kan? Saya tidak hanya diberi hujan, tapi terkadang gemuruh, awan hitam tebal bahkan rentetan pelangi. Saya hampir lupa jika saat ini saya hanya punya empat musim. Tapi Tuhan, sekali lagi memberikan banyak bonus; empat musim normal, ditambah lagi tiga musim spesial; musim hujan kata, musim kemarau, lalu musim rindu. Moga-moga kepala dan hati saya selalu sanggup menerima banyak bonus ini.

Oya, untuk kamu, atau kamu, dan kamu. Jangan pernah khawatir mengucapkan kata-kata ke angkasa. Karena kita tidak pernah tahu bagaimana cara Tuhan mengembalikannya ke bumi. Tapi kalau bisa, jangan pernah lupa ajak selalu tangan, kaki, kepala, dan hati untuk bekerja sama. Lalu jemputlah kejutanmu.
read more “Tujuh Musim.”

Friday, September 30, 2011

Delapanpuluh Batu

Mungkin aku hanyalah lakon kecil dari sederetan nama besar yang gaung hikayatnya telah menembus dimensi waktu kekinian. Aku pun tidak ingat namaku. Namun yang aku ingat dengan seyakin-yakinnya adalah, aku akan menjadi satu-satunya pengantar cerita ini kepada kaum kalian. Kaum yang memiliki tata semestanya sendiri. Tata semesta yang disebut hati―yang ku dengar lebih rumit dibanding pertanyaan Kresna pada Gusti Agung tentang "Apakah titisan dewa tidak bisa mati?"―yang ku perkirakan juga lebih rumit dari segala alasan yang menjadikan pertikaian antara Pandawa dan Kurawa benar adanya.

Aku adalah bagian yang tidak perlu diingat. Pun keberadaanku pada malam itu tidak istimewa sama sekali. Namun cukup sudah malam itu mengajariku tentang arti kehilangan yang dalam. Arti harapan yang terburai sia-sia. Atau arti cinta yang menutupi mata.

Kisah ini dimulai ketika seorang kawan mengabarkan adanya lowongan pekerjaan di suatu tempat yang mengagumkan―setidaknya mungkin ini istilah yang paling mendekati dengan keadaan jaman dulu, karena sesungguhnya kaum kami tidak mengenal sebutan "kawan" atau "lowongan pekerjaan".

Pekerjaan yang ditawarkan sebenarnya sangat mudah. Tidak memerlukan keterampilan khusus. Kami hanya mengikuti perintah tentang bagaimana dan dimana kami harus menumpuk-numpuk batu agar terbentuk suatu bangunan. Sejauh ini memang tidak ada yang aneh, namun jika kalian melihat berapa jumlah pekerja yang dikumpulkan malam itu, mungkin kalian akan merinding. Entah berapa ribu bala bantuan yang dihadirkan dari seluruh pelosok negeri.

Aku bertanya-tanya pada kawanku, "Sebenarnya ada apa semua dengan semua ini?"
"Sama seperti dirimu. Aku juga tidak tahu. Kau mengerti kan, pekerja seperti kita tidak pernah punya hak mewah, bahkan untuk sekedar mengetahui tujuan setiap pekerjaanpun, kita tidak punya" Jawab kawanku yang kemudian membuatku diam.

Tidak berapa lama kemudian, seluruh pekerja dibagi beberapa kelompok, atau mungkin ratusan kelompok. Sungguh, aku tidak tahu pasti. Malam itu gelap dan aku tak bisa leluasa memperhatikan sekeliling karena setiap kelompok kerja diawasi Mandor. Sayup-sayup ku dengar dari obrolan para mandor yang entah berarti apa, namun ada kata-kata berikut ini: "1000 bagian", "terbit fajar", dan "cinta".

Aku mungkin pekerja yang paling tidak bisa tenang waktu itu―karena demi seluruh Dewa Dewi yang ada di langit―aroma teka-teki yang tidak biasa ini tercium keras. Mungkin sama kerasnya dengan perintah-perintah yang memaksa kami untuk bekerja lebih cepat lagi dan lagi. Tanpa ada kegagalan sebelum fajar tiba.

Tunggu! Apakah tadi aku mendengar kalimat "tanpa ada kegagalan sebelum fajar tiba?"
Benarkah?

Ah.. akhirnya aku setidaknya mengetahui berapa lama lagi aku harus selesai bekerja. Yang menurut perkiraanku saat itu, hanya tinggal beberapa saat lagi sampai fajar menyingsing.

Namun tidak, sampai terjadi hal ini...

Entah apa yang ku lakukan, aku menumpuk batu yang salah sedari tadi. Ini karena aku yang terlalu sibuk menelaah semua keanehan malam ini. Ini karena aku selalu tidak ingin menerima mentah-mentah setiap perintah. Ini karena.. aku melakukan kesalahan fatal!

Ada 80 tumpukan batu yang menempati tempat yang tidak semestinya, yang lewat dari kesadaranku bekerja atau yang sama sekali lalai dari pengamatan mandor.

Aku melakukan usaha tercepat yang pernah aku lakukan. Ku robohkan dengan tergesa kedelapan puluh tumpukan batu yang berpenampilan abstrak itu. Aku bisa merasakan tatapan cemoohan ribuan pekerja lainnya, tapi sungguh aku tak peduli. Aku lebih peduli pada monster mengerikan yang berada di belakang punggungku, monster yang bernama "fajar menyingsing" yang semakin berlari mendekat.

Tidak. Jangan harap ampunan dari Sing Mbahu Rekso. Bahkan ku pastikan tidak akan ada seorang mandorpun yang akan memaafkan kesalahanku kali ini. Tidak ada.

Sampai akhirnya, masih ada duabelas batu lagi yang harus aku susun, kemudian kami semua dikejutkan oleh ayam jantan dari kampung seberang yang berkokok dengan lantangnya. Bukan seekor ayam jantan, mungkin ada satu kampung ayam jantan yang sedang berkokok bersahutan berbarengan. Belum lagi bunyi ibu-ibu petani yang memukul lesung padi yang menandakan pekerjaan manusia telah dimulai. Saat itu, semua bebunyian itu menyatu menjadi iirama yang paling meradang di gendang telinga.

Fajar sudah menyingsing. Fajar sudah terbit.
Sedang pekerjaan belum berakhir.

"Tidak! Tolong Dewa, jangan kau bilang hari ini sudah subuh. Aku paham benar kapan waktu pagi dan dini hari. Tidak. Ini belum waktunya mataharimu menerangi bumi. Tidak sampai aku selesaikan duabelas batu lagi, untuk menggenapi 1000 bangunan yang diminta. Tidak, Dewa! Tidak!" teriakku dalam batin.

Seketika Sing Mbahu Rekso―Pangeran yang Agung, menggelegarkan amarah yang membuncah angkasa. Sungguh, aku pikir kali itu adalah masa terakhirku. Aku sepertinya sangat pantas apabila dihabisi saat itu juga. Namun, tidak!

Pangeran justru murka pada Putri. Ia berteriak keras bahwa sang Putri telah berbuat curang. Memanggil pagi lebih dahulu, semata-mata demi menggagalkan pembuatan 1000 bangunan dalam semalam. Semata-mata menggagalkan keinginannya untuk bersanding dengan Putri selamanya.

Pangeran marah. Ini amarah terbesarnya. Amarah yang tidak main-main.
Tidak ada seorangpun dari kami yang berani mengangkat wajah. Tidak ada seorangpun yang dengan bodohnya berani bergerak.

"Putri.. sesungguhnya kecantikan paras dan hatimu lah yang mengantarkanku kemari. Yang mengantar ribuan pekerja untuk melengkapi 1000 bangunan prasyaratmu. Yang dengan lugunya ku amini sebagai harapan nyata bahwa kita dapat bersama. Namun kali ini biarlah pengkhianatanmu sendiri yang mengantarkanmu pada akhir cerita hidupmu, Putri. Janji sudah terlanjur terkoyak oleh kelakuanmu"

" Andai cinta yang sesungguhnya sempat singgah di hatimu, Pangeran. Maka kau akan paham bagaimana aku rela kembali ke tanah, dibanding memuja lelaki yang tak pernah ku cintai sepanjang hayat"

"Kau benar-benar menghinaku, Putri! Pergilah. Lengkapilah prasyaratmu dengan tubuhmu!"

Seketika itu pula, langit subuh dihiasi cahaya biru yang menyilaukan mata. Mengakhiri segala amarah dan harapan yang pernah meletup-letup dalam dada Pangeran. Mengakhiri kisah cinta yang tak pernah menemukan muaranya.

Pangeran tetap terluka. Sedang Putri hidup kekal―dalam jelmaannya sebagai bangunan ke-seribu.
Di suatu tempat yang kalian kini menyebutnya sebagai Candi Prambanan.



read more “Delapanpuluh Batu”

Thursday, August 18, 2011

Lihat Nanti.


Mungkin nanti ada saatnya semesta bercerita
Menyenandungkan setiap kata dari melodi pengharapan
Melodi satir yang lagi-lagi bernada cinta
Atas nama tak berbalas atau tak sempat terucap lisan

Mungkin nanti ada saatnya alam astral mentasbihkan pertanyaan
Penyambung lidah dari rasa di sanubari
Yang terlanjur dibentengi oleh sikapmu
Yang tidak memberi kunci pada pintu kesempatan

Mungkin nanti ada saatnya
Kau terhanyut dalam kembang api monokrom
Yang warnanya luruh oleh cinta yang kau tolak
Yang tak kau dengarkan
Yang kau acuhkan

Mungkin nanti akan ada saatnya
Kau berjalan menuju rumah
Dengan bayangan sebagai pasangan setia

Dan bila saat itu tiba,
Jangan berusaha mengingatku
Karena jatuh cinta padamu cukup sekali
Dan sudah berakhir sejak sehari lalu


read more “Lihat Nanti.”

Wednesday, April 20, 2011

Anomali.


"Sedang baca apa sih? Serius begitu wajahnya" tanya suara berat di sampingnya.
"Penggalan surat Kartini yang ditulis untuk Nyonya Abendanon. Beliau adalah salah satu sahabat pena Ibu Kartini. Coba dengarkan sebentar, biar ku bacakan"
Lelaki itu nampak ingin protes, namun wanita di sampingnya sudah terlanjur bersuara.

Pasti tiba saat di mana aku akan disandingkan dengan seorang suami yang belum kukenal. Di Jawa, cinta hanya sebuah khayalan. Orang Jawa yang sangat beradab bisa dihitung dengan jari, tapi budaya dan pendidikan belum diperhitungkan dalam hal immoralitas. Carilah dan mintalah sesuatu dari dunia aristokrasi laki-laki itu tapi bukan ini, moralitas, karena akan sia-sia. Aku benci. Aku memandang rendah mereka semua.

"Hmm.. sudah selesai?"
"Iya"
"Lalu.. apa kau sekarang akan memandang rendah kaum kami?"
"Tidak. Kecuali kaum kalian masih tidak mau belajar moralitas. Hal yang sama yang kaum kami minta sejak dulu. Setidaknya sejak jaman Ibu Kartini"
"Hmm.. apa yang membuatmu berpikir bahwa kami tidak belajar moralitas?"
"Jangan pura-pura kau tak mengetahui, hidup seperti apa yang sedang kita jalani saat ini. Angka KDRT yang tinggi, perdagangan wanita, eksploitasi kehormatan wanita, bahkan sexual harassment di angkutan publik. Demi Tuhan, entah dimana letaknya hati kalian"
"Oh wow! Nampaknya anda sedang masuk dalam ranah generalisasi, Nona!"
"Hahaha.. Biar kuberi tahu ya Tuan, mau generalisasi atau tidak, faktanya susah betul jaman sekarang untuk bisa bertemu dengan laki-laki baik. Kecuali kau tentunya, harus ku akui kalau aku cukup beruntung"

"Lalu.. apa pendapatmu tentang cinta? Apa kau akan seperjuangan dengan Ibu Kartini?"
"Oh C'mon.. kau jangan meledek begitu! Tapi memang harus ku akui, aku setuju dengan beliau. Cinta itu impian harga mahal. Khayalan paripurna dari sosok Cinderella atau Putri Tidur. Mungkin hanya eksis sebagai teori, selayaknya teori hukum gas ideal. Pengingat bahwa kita semua bermimpi untuk memiliki hal sesempurna itu, karena kenyataannya tidak"

"Ah kau terlalu berlebihan, cinta itu natural. Hadiah gratis dari Tuhan yang akan diberikan untuk setiap umatnya. Cinta itu yang menghangatkan hatimu, yang menyentuh jiwamu untuk berbuat baik"

"Begitukah menurutmu? Aku fikir ketika kau berbuat baik, lebih dikarenakan oleh isi otakmu yang sedang berfikir baik. Logikamu berjalan bahwa kebaikan akan memberikan manfaat bagi banyak orang, sedang sebaliknya tidak"

"Lalu teori apa lagi yang bisa kau jelaskan dari dua manusia yang menikah? Menurutmu apa itu ditentukan juga oleh otak yang berfikir baik?"

"Entahlah.. tapi ku rasa mereka telah memproklamirkan diri untuk menghamba pada impian mahal tadi—Cinta. Entah untuk merasakan utopia atau mencoba membuktikan bahwa suatu yang sempurna itu ada"

"Entah apa isi kepalamu hingga sedemikian skeptisnya. Tapi.. coba sekali-sekali kau berlogika seperti ini, kau akan butuh pasangan. Sebagai tempat kau berbagi rasa, bercerita dan menjalani hidup bersama"

"Satu, aku sudah punya Tuhan. Dia Maha Cukup sebagai tempatku berbagi dan bercerita. Bahkan segala solusi terbaik dimiliki olehNya. Kedua, aku punya sahabat—kau salah satunya, yang setia menjalani kegilaan sehari-hari bersamaku. Tiga, aku punya diriku. Itu yang paling penting. Karena kau tahu, ketika orang lain datang dan pergi dalam kehidupanmu, dirimu sendiri adalah satu-satunya makhluk yang akan tersisa yang akan menemani tubuhmu. So, apa lagi yang aku butuhkan?"

"Eh aku turun di sini aja deh. Baru ingat tadi Edo nitip dibeliin makan siang. Salam buat Nayla ya, sorry gak bisa lihat pentasnya"

Iya, hari ini sudah dua kali lelaki kehilangan kesempatan untuk berbicara lebih dulu. Entah berapa lama ia terpaku di tempat parkir, walau bayang wanita tadi—ia yang bernama Kandi, telah jauh memunggungi mobilnya.

*****

"Ayah! Aku deg-degan! Aku takut gak hafal lagu Ibu Kita Kartini!" teriak bocah berumur 7 tahun bernama Nayla itu sesaat setelah Sang Ayah menampakkan wajahnya.

"Bidadari gak pernah takut, sayang. Apalagi sudah sering latihan kan? Pokoknya kalau bisa gak gugup tampilnya, sabtu ini kita jalan-jalan ke Dufan deh! Terus kita makan yang enak-enak. Bagaimana?"

"Ayah, aku mau hadiahnya Tante Kandi jadi Mama Nayla! Bisa kan, Yah?"

"Nayla.. sini yuk sama baris sama teman-temannya yang lain, sebentar lagi kalian tampil loh"

"Dah, Ayah!" Kecup Nayla cepat segera berkumpul dengan teman lainnya.

Tiga kali.
Tiga kali dalam sehari ini ia kalah dalam adu cepat dalam berbicara. Namun, tidak untuk yang ketiga.
Ia merasa diselamatkan.






PS: Penggalan surat Kartini diambil dari sini
read more “Anomali.”