Thursday, June 10, 2010

Deposito.


Kali ini bukan karena ritual khusus atau ramalan, tapi sudah 3 kali secangkir Caramel Machiato diaduk berlawanan arah jarum jam oleh wanita itu. Buih-buih krimnya sendiri sudah berpencar ke dinding gelas, sedang uap panasnya, sudah meninggalkan separuh gelas sejak tadi.

Hari memang masih terlalu pagi, bahkan untuk membangunkan seekor gajah di pelupuk mata. Tapi apa daya jika penerbangan pagi harus dijalani. Kantuk dan setengah kesadaran yang tertinggal di rumah tak urung jadi menu utama sarapan kali ini.

Jalanan juga tak bersahabat. Mungkin wanita tadi berharap, akan ada macet dadakan subuh ini. Entah karena Penutupan Jalan, Demo Massal, Kampanye Pilkada atau Si Komo Lewat, yang penting macet! sehingga ia bisa tidur di taksi lebih lama. tapi Jalan memang bersekutu dengan Takdir pagi ini. Dia masih memiliki 2 jam ke depan, sebelum pesawatnya benar-benar terbang.

"Kursi ini masih kosong kan? Tidak keberatan kan jika kita berbagi meja?" kata suara berat di hadapannya.

Wajahnya menengadah. Sepertinya dia hafal suara itu. Tapi karena ada lampu Cafe menyilaukan pandangannya, tanpa memperhatikan lebih lanjut dipersilahkan Lelaki itu untuk duduk satu meja dengannya.

"Sepertinya kita saling kenal. Bukan begitu?" Si Suara Berat kembali melempar percakapan.

Si Wanita menoleh. dan dia mengiyakan sepenuh hati perkataan Lelaki tadi.

Demi Tuhan, bagaimana dia tidak sampai mengenal Lelaki di hadapannya, jika dulu hampir 2 tahun mereka pernah bersama. dan karena cerita akhir yang agak menyakitkan, maka setelah berapa ribu hari, akhirnya mereka bertemu lagi.

"Hei, Kamu. Tidak menyangka malah ketemu di sini. Nampak semakin langsing saja"

"Ya ya ya, benar-benar mengejutkan bisa bertemu denganmu lagi. dan Kau, makin subur saja. nampak makmur rupanya?" canda Lelaki itu.

"So... apa kabarmu?" tanya keduanya hampir bersamaan.

"Hahahaha. oke, kabarku baik. Tidak kekurangan suatu apapun. malahan harus ketambahan 9 kilo lemak yang hampir sepertiganya terdistribusi di Pipi" jawab Wanita itu sambil balik bercanda.

"Kalau untuk bagian itu tak perlu kau katakan dengan jelas, itu terlalu mudah terbaca olehku. hahahaha. by the way, kamu akan berpergian kemana pagi ini?"

"Hmm.... hanya sedikit urusan dinas ke pulau seberang. Err... bukan tempatmu kok"

"Kenapa kau sangat yakin jika aku masih menempati pulau yang sama seperti dugaanmu?" tanya si Lelaki kemudian.

"Katakan saja: Intuisi. dan hampir seluruh Intuisi ku tentang mu selalu berakhir benar. Bukan begitu?" jawab Wanita dengan angkuh.

"Hahahahaha. kau memang tidak berubah. Berasumsi adalah kegemaranmu yang paling utama. Tapi, ya untuk kali ini aku akui kamu benar. Ya. Aku masih menetap di pulau itu." Jawab Lelaki dengan nada pasrah.

Pembicaraan kemudian berlanjut. Tanpa ada paksaan. Sesuatu yang bersandiwara. Atau olesan bibir belaka.

Keduanya lepas dalam tawa. Mungkin selama ini keduanya memendam kerinduan. Kerinduan berbicara, saling berdiskusi, berdebat hingga harus membuka ratusan buku, atau sekedar mempatenkan diri sebagai 'Orang Konyol'.

Caramel Machiato mungkin satu-satunya benda disitu yang paling kesal. Bagaimana tidak, jika setelah 3 kali diaduk paksa. Diteguk tanpa niat. Hingga kali ini benar-benar uap panasnya telah beku seluruhnya, tetap tak membuatnya diminum sampai tuntas.

Terlalu banyak kata-kata yang berlompatan dari bibir mereka. Itu satu-satunya pandangan yang disaksikan oleh Caramel Machiato. "Dasar Manusia!" rutuknya dalam-dalam.

Perlahan, suara gelak tawa itu menghilang, berganti sebuah pertanyaan dengan nada sedikit serius.

"Jadi, kau begitu bahagia sekali rupanya. Baguslah jika demikian. Aku turut bahagia" tegas Lelaki itu.

"Ya. Aku jauh lebih bahagia sekarang. bukan karena aku tidak lagi membencimu, tapi karena aku memang menginginkan bahagia. Bagaimanapun juga adalah hal yang bodoh jika terus memenjarakan hati dengan luka. Dia berhak bahagia."

"Kamu juga bahagia kan?" tanya balik si Wanita.

"Hmm.. Aku akan selalu mencoba bahagia. Untuk itu kamu tenang saja. Lalu.. apa saat ini kau telah menitipkan hatimu pada orang lain?" tanya sang Lelaki dengan hati-hati.

"Pengalaman mengajariku untuk tidak lagi melakukan Simpan-Pinjam tentang Hati, garansinya tidak ada dan riskan pelanggaran, termasuk di dalamnya penarikan secara paksa Hati yang aku pinjam sebelum jatuh tempo. Jadi, sekarang aku hanya bermain Deposito. Mendepositokan cinta, kebaikan dan kebahagiaan pada tempat-tempat yang aku inginkan. Tanpa perlu was-was akan dicuri atau tercampuri punya orang lain. Ketika aku merasa tidak perlu lagi, tinggal aku tarik dan tutup rekeningnya."

"Lalu siapa yang menjadi tempat deposito terbanyak?"

"Sekali-sekali belajarlah menggunakan instuisimu, Bung. Tebak dia siapa orangnya. Karena kali ini aku tidak akan mengatakannya" jawab Wanita itu sambil membereskan barang-barangnya. karena jika dia tinggal lebih lama lagi di sini, niscaya dia akan kehilangan penerbangan paginya.

"Oya, mungkin sebaiknya kita tidak usah bertemu, karena bisa jadi secara tidak sengaja aku membocorkan Siapa Pemilik Deposito Terbanyak ku. dan itu bukan sesuatu yang baik. setidaknya buatku." lanjutnya kemudian.

"Oke. waktunya pergi, semoga penerbanganmu menyenangkan" si Wanita menyelesaikan kalimatnya, menunggu beberapa detik hingga kemudian benar-benar berlalu dari hadapan sang Lelaki.

Entah si Lelaki mengerti atau tidak, jika hingga hari ini, dia adalah penyimpan Deposito Terbesar.

Tapi, sepertinya dia juga tidak peduli.


read more “Deposito.”

Wednesday, June 9, 2010

Detik Waktu. Saksi Bisu.

Wanita itu terpekur. membacakan mantra. khusyu'.
Sementara detik jam turut was-was menunggu.
Akan ada percikan api kah?
Ledakan dahsyat?
atau.... bulan tiba-tiba hilang?

Wanita itu tetap terpekur.
Melakukan gerakan aneh.
Memutar. Membungkuk. dan sesekali Berdiri Tegak.
sementara dari bibir mungilnya masih tergumam sejumlah kata.
Kata yang terdengar samar. Berbahasa aneh, yang entah artinya apa.

Lalu diambilnya segumpal kain yang telah dibentuk sebuah boneka.
Lengkap dengan 2 mata dari kancing baju,
1 hidung dan 1 mulut yang dibentuk dengan menggunakan jahitan benang.
Ditusukkan kepadanya sebuah peniti.
Peniti yang rupanya sedari tadi digenggam sewaktu ia melakukan gerakan aneh.

Pola tusukannya tidak acak.
Satu kali di kepala.
Berlanjut ke bagian dada, kedua tangan,
Dan Kaki.

Detik jam masih menunggu.
Apakah setelah ini baru akan terjadi ledakan?
Atau sesuatu lebih dahsyat dibanding itu?
Tapi suasana tetap hening.
Ya. begitu saja. Wanita itu berjalan mendekat, Lilin dimatikan.
Air kembang, kartu-kartu Remi, foto, sehelai rambut juga dibereskan,
Lampu kamar berbentuk Lampion lalu dinyalakan.
Lalu dia beranjak tidur.

“Ahh… payah!” detik jam mendesah.
Percuma ia menunggui wanita itu selama 1 jam jika hanya berakhir pada kegiatan tidur di malam hari seperti biasa.
Padahal ia menunggu sesuatu yang berbeda malam ini.
Entah bulan tiba-tiba hilang.
Atau mungkin 1 bintang berkunjung ke kamar malam ini.
Tapi nihil!

Keesokan harinya,
“Hai. Hari ini ada acara? Aku mau ngomong sesuatu sama kamu. Ada waktu?” kata Pria dari seberang sana.
Wanita itu kemudian tersenyum.

dan sejak saat itu, si Pria selalu menurut setiap titah sang Wanita.
ketika sedikit efek menghilang, maka ia akan melakukan hal yang sama.
Gerakan aneh, gumaman tidak jelas dan kegiatan tusuk-menusuk boneka.

Si Detik Jam, akan selalu jadi saksi bisu untuk hal ini.
Selalu.





P.S: In any kind of Realtionship, don't be her/his Voodoo. but be their Voodoo Controller! :)) #ngawurpuol
read more “Detik Waktu. Saksi Bisu.”

Tuesday, June 8, 2010

Entitas Warna.


Aku mencintaimu.
Seperti warna merah yang menemani Senja.
Seperti warna hijau yang menemani Dedaunan,
atau Seperti warna kuning yang menemani Matahari.

Aku mencintaimu.
Seperti warna abu yang menemani Langit kelabu.
Seperti warna keemasan pada Daun yang menua.
atau Seperti warna hitam saat Matahari tertutup Bulan.

Aku mencintaimu.
Saat warna merah memenuhi Aura wajah marahmu.
Saat warna putih menyinari hatimu,
atau Saat kau memoleskan warna lain yang tak aku suka.
Kau tahu kan?
Biru Tua.
Itu sewaktu kau kaku, diam dan menyembunyikan sesuatu.

Aku mencintaimu.
Saat kau tak berwarna.
Hilang tanpa jejak.
Tanpa kabar berita.
Meninggalkan aku dalam pallet-pallet cat kosong.
Membiarkanku menerka sendiri Warna wajahmu.

Aku mencintaimu.
Tanpa label Monokromatis.
Tanpa label Polikromatis.
Karena sesungguhnya entitas warna Cinta,
Akan bermuara pada satu.
Kamu.


--
Juanda International Airport,
05.49pm, June 7, 2010.



read more “Entitas Warna.”

Saturday, June 5, 2010

Ini Bukan Tentang Film.


"The Gods have a plan for you. Destiny."
-Tamina, Prince of Persia-


Saya dan Bioskop sepertinya sudah bersahabat karib sejak lama.

Terlebih jika kepenatan selalu setia membayangi bayang-bayang tubuh saya.
Atau saya terlalu jenuh duduk di kursi kantor,
Atau Mata kurang vitamin,
Atau karena kehausan sketsa hidup orang lain,
Atau karena ingin menghabiskan waktu bersama sahabat-sahabat terkasih,
Maka pada saat itulah saya mengunjungi Bioskop.

Saya dan Bioskop sepertinya sudah bersahabat karib sejak lama.

Dia begitu pintar membuat saya tertawa.
Kadang juga memaksa saya menangis haru.
Teriak-teriak kegirangan.
Atau... berkata: "Ah ini seperti kisah saya!"

Ya. persis seperti kali ini.
Saya bertemu Bioskop kesekian kalinya.
Menanti lagi, kejutan apa yang ditampilkannya untuk saya.

Prince of Persia.
Kisah Heroik yang lebih terpengaruhi oleh sisi Romansa.
Pertemuan dua manusia yang melalui perantara takdir.
Yang satu sebagai Penjaga.
Yang lain sebagai Pangeran 'nakal'.

Dia, Jake Gyllenhaal -yang didapuk sebagai sang Pangeran Dastan.
Tak lain Tak bukan adalah tokoh penting dalam film ini.
terakhir kali saya melihatnya sudah agak lama,
di Brockbeak Mountain dan Jarhead.
agak lupa bagaimana senyum terakhirnya,
yang pasti, kehadirannya kembali di sini, hanya membuat saya histeris.

Katakan saja ini berlebihan,
toh banyak reviewer atau kritikus film, menghujat film ini habis-habisan.
Tapi entah kenapa, Jake Gyllenhaal dalam versi Pangeran Dastan sukses menyihir saya.

Saya suka aksen Inggris yang dipaksakan.
Saya suka kata-kata berbasis skrip yang terkesan 'nakal', tidak patuh aturan, dan... menggoda :)
Saya suka jambang di rahang pipi kiri dan kanannya,
semakin mempertegas raut wajah perseginya.
Saya suka penampilannya yang jauh lebih 'laki-laki',
penggambaran yang pas untuk seorang Pangeran.
Tidak terlalu kekar, *karena memang dia bukan Algojo*
Tidak terlalu menuruti aturan,
Tidak bersikap lemah lembut *bahkan kepada wanita*
tapi yang pasti dia akan selalu peduli pada orang yang dikasihinya.

dan satu lagi!
saya suka Alanis Morissette menyumbang sebuah lagu dalam film ini.
"I Remain", itu judulnya.

Musiknya sangat tidak berlebihan untuk menunjukkan sisi Etnik dari Persia.
Pemilihan kata yang baik untuk menceritakan isi film.
Harmoni yang ramah di telinga.
Bahkan jika saya harus memutarnya 20 kali dalam sehari :)

Saya kecanduan.
Benar-benar kecanduan.

Jangan pernah selamatkan saya.
Jangan!


read more “Ini Bukan Tentang Film.”

Friday, June 4, 2010

Kosmetik Pagi.



Hai Pagi.
Kamu tampak cantik.
pakai blush on apa hari ini?

Jingga?
Biru Muda?
Jangan bilang kamu lebih suka Abu Tua.


Esok Senin saja Abu Tua-mu.

Hari ini biarkan Biru Muda atau Jingga saja.


Oya, jangan ber-cardigan Awan,

Nanti Matahari enggan melihat saya.

Sebaiknya pakai saja selendang tipis Angin.

Bawa kesegaran untuk pekerja di jalan.

Toh Angin juga menikmati kok membelai lembut pipi para manusia.


Jangan juga pakai Maskara.

atau Eye Shadow Hitam atau Gincu Merah.

hari ini cukup Ear Phone saja.

Supaya kau bisa mendengar riuh rendah Manusia menyambut akhir pekan,


Tapi, kalau kau merasa kurang genit,

Pakai saja Lipbalm Strawberry.

Ciumi kami karena begitu memujamu hari ini.


dan... tarraaaaa!!

Selamat, Pagi!

Kau memang cantik sekali hari ini.


Oya, esok juga kamu harus tetap cantik ya!
Aku butuh sedikit awan biru untuk penerbangan.

*cups*






P.S: Happy Weekend! :)
read more “Kosmetik Pagi.”

Thursday, June 3, 2010

Untuk Saudara.


saya bercermin.
lalu menunduk.

saya melihat.
lalu menangis

saya berkata.
tapi selalu kelu.

saya berjalan menuju tempat itu.
saya mundur.
jiwa cuma satu.
saya malu.

maaf Tuhan.
maaf saudara di sana.
saya -manusia biasa, hanya mampu menguntai do'a.
"do'a kecil" diantara berjuta kata yang dilafazkan,
oleh alim ulama.
atau para pemuka agama.

maaf Tuhan.
maaf saudara di sana.
saya -manusia biasa, hanya mampu menguntai do'a.
"do'a kecil" di setiap sujud.
atau saat tangan menengadah ke atas.

maaf Tuhan.
ampuni saya.

maaf saudara di sana.
saya hanya menyumbang do'a untuk tameng kalian.

maaf mata, mulut, tangan dan badan yang saya kerangkeng hanya dengan do'a.
semoga kita satu sama lain tidak saling menyusahkan di peradilan kelak.

maaf Tuhan.
maaf saudara di sana.
saya -manusia biasa, hanya mampu menguntai do'a.





P.S: Untuk Saudara-Saudara saya di Palestina.
read more “Untuk Saudara.”

Thursday, May 27, 2010

Antara Saya dan Percy Jackson


Petir turun ke bumi. Mengantarkan hujan. dan Menculik koneksi internet umat manusia. katanya mau dipinjam sebentar.

Rupanya petir agak sedikit bosan bermain dengan bintang. Katanya "bintang itu pemalu. tiap kali ada hujan, dia sembunyi di balik awan".


Itulah kenapa dia membenarkan alasan menculik koneksi internet sebagai satu-satunya caranya untuk bermain.


Saya kesal dengan petir. karena dia sudah mengganggu waktu kencan saya dengan si Kotak Hitam berukuran 14" wide screen itu.


Lebih geram lagi, ternyata petir pilih kasih. hanya suka mengganggu saya.


buktinya, empat umat manusia lainnya dalam kondisi segar bugar tanpa kekurangan suatu apapun.


"awas kau petir, tunggu saja sampai aku bersekutu dengan Percy Jackson. ku curi tongkat petirmu!"

...dan benar saja, ditemani hujan, saya berkunjung ke rumah Percy Jackson.

seperti biasa, saya tidak akan mencarinya ke kamar, atau dapur, atau ruang TV, tapi saya langsung ke halaman belakang, menuju kolam renang.


benar saja, dia ada di sana. di dasar kolam. "Hei, Percy! bisa ke daratan sebentar? saya butuh bantuanmu" kata saya di pinggir kolam sambil menyibakkan jas hujan yang menutupi hampir separuh wajah.

"ah sial, hujan agresif banget sore ini. meluk saya dengan keras sekali" rutuk saya dalam hati.


"Hei. lama tak berjumpa. ada gerangan apa kau ke sini? ingin pamer kemesraan mu dengan hujan ya?" ujar Percy masih di dalam kolam renang.

"Kita bicara saja di dalam rumah, di sini terlalu terbuka. aku tidak mau Petir mendengar kita" jawab saya setengah berbisik.


******

"saya sebal dengan Petir. dia hobi banget ganggu saya. dia menculik koneksi internet. padahal saya lagi butuh" ujar saya kemudian sambil menghempaskan diri di sofa ruang tengah.


"lalu, kamu mau saya melakukan apa?" tanya Percy.

"bantu saya, ayo kita culik Tongkat Petir. biar tahu rasa dia. gak usah lagi semena-mena sama saya"

tiba-tiba, Poseidon. ayah Percy Jackson masuk ke ruang tengah. nampaknya dia baru tiba di rumah.

"habis patroli lihat laut ya, Pak? emang tuh si Petir kadang-kadang iseng banget. sering goyang-goyangin laut" sapa saya.


"hahaha. nggak kok. saya habis ketemu Dewi Aprodhite. saya minta bantuannya, supaya berkenan menasehati Petir biar tidak sering berulah. semoga saja cinta kasihnya mampu meluluhkan arogansi Petir" jelasnya kemudian.


nah kan, ternyata tidak hanya saya yang terganggu dengan Petir. bahkan Dewa-Dewi pun sudah mulai geram.


saya memberi isyarat pada Percy Jackson untuk tidak membocorkan rencana kami menculik Tongkat Petir kepada Poseidon, Ayahnya. untung saja dia paham. sempat khawatir juga sih, kalau rencana ini sampai terbongkar. pasti Poseidon tidak akan setuju. yang artinya besok-besok saya tidak boleh main lagi ke rumahnya, karena mengajari anaknya yang tidak-tidak.


tak lama kemudian kami beranjak, dengan alasan kami ingin berkunjung ke tempat Annabeth.

memang tidak bohong kok, karena memang kami ingin ke sana sekaligus mengajak Annabeth turut serta dalam rencana ini: Menculik Tongkat Petir :p

baru berjalan tiga langkah dari rumah Percy. tiba-tiba cuaca mendadak cerah, bintang sudah mulai percaya diri. tidak lagi bersembunyi di balik awan.


saya terbengong. Percy juga.

Zeus dari ujung perumahan sana, nampak berjalan mendekat.


"kamu tidak perlu menjadi pencuri, nona cantik. tadi saya sendiri yang meminta pada Petir untuk menyerahkan Tongkat Petirnya. saya bilang, ada wanita cantik yang sedang butuh internet untuk proposal penelitiannya. Selamat Malam, nona cantik"


ahh ingin rasanya saya ingin memeluk dan mencium Zeus sekarang juga sebagai tanda terimakasih.

tapi sepertinya Percy Jackson lebih menggoda.




P.S:
bila ada persamaan nama tokoh, tempat adalah unsur kesengajaan.

P.S.S:
gini ini kalau mau ngenet kemaren, tapi koneksi putus :)



read more “Antara Saya dan Percy Jackson”

Friday, May 21, 2010

Kencan.


sebenarnya saya bisa menggunakan payung atau motor -lengkap dengan jas hujannya,

tapi saya lebih pilih kepala beratapkan langit dengan hujannya.



saya sedang ingin berkencan dengan hujan sore ini.


ingin dikecup kedua pipi saya olehnya. kecupan yang dingin. tapi sebenarnya menghangatkan di hati.


ingin dipeluk sampai saya merasakan dingin ke seluruh penjuru tulang.

ingin bersandar di tubuhnya yang besar. supaya saya bisa menyandarkan tubuh saya dalam pangkuannya.


dan ingin menitipkan air mata saya padanya. sebagai bentuk saling berbagi saya dan dia.

"ambillah hujan, saya tidak butuh air mata ini. bawa saja ke Gurun Sahara atau ke sungai-sungai dangkal. atau jutaan manusia lain pendamba air"


Hujan memandang sinis. sangat sinis.


Lalu dia berkata: "Dulu kamu kan yang sering bersembunyi di balik tubuhku untuk menyembunyikan tangis?"

"kamu juga kan yang selalu meminta pada Tuhan supaya aku sering menyambangimu? karena akulah satu-satunya perekatmu dengan masa lampau"

ah Hujan! kenapa dibeberkan semua sih?

Jaman dulu itu kan cuma sekedar menarik perhatianmu saja.


Sesungguhnya aku lebih mencintaimu kok, daripada bayangan-yang-entah-siapa-itu-yang-selalu-ikut jika kamu menyambangi hati saya.

eh tunggu!

kok bayangan-yang-entah-siapa-itu-yang-selalu-ikut-sama-kamu, tidak terlihat lagi?

saya tidak pernah mengusirnya loh. beneran deh!


ahh jangan-jangan dia cemburu sama kamu.

karena setiap kamu datang, saya lebih suka berbincang denganmu dibanding dia.


ahh iya! mungkin juga begitu.



ya sudah Hujan, sampai kapan kita berbincang terus?


peluk saja saya segera!


waktumu tidak banyak kan?







P.S: racauan ini akibat hujan-hujanan kemarin sore.
P.S.S:
semoga saya tidak Flu! amin.
read more “Kencan.”

Tuesday, May 18, 2010

Perekat Ide


saya perlu suatu bahan untuk merekatkan ide pada kepala. sesuatu yang kuat. mudah didapat.

entah ide yang enggan menghinggap lama. atau perekat kurang kuat, membuat saya merasa miskin sekarang.

saya sempat berkeliling dunia. menyelami ratusan perpustakaan. tapi perekat ide tak jua saya temukan.

saya sempat berbincang dengan Mitsonobu, Markovnikov, Friedel-Crafts, McMurry. mereka juga tidak tahu formula perekat ide.

Lalu banyak yg bilang, "ikuti saja filosofi Na-Metoksida atau Kalium dikromat yang adalah katalis sejati. siapa tau memancing perekat ide."

"..atau gunakan reaktan berlebih, agar reaksi tak mudah dibatasi" ahh.. saya skeptis. bukan begitu menemukan formula perekat ide

lalu, di bagian sana ada yang bilang. "tanya saja formula perekat ide pada Tuhan"

mungkin saya memang bisa bertanya padaNYA ttg perekat ide. tapi rasanya malu. terlalu sering saya minta macam-macam.

lalu apalagi?

biarkan saya berhenti sebentar. mengecek bagian apalagi yg saya lewatkan dalam mencari perekat ide.

ah ya! musik klasik, suasana yang tenang, perut kenyang. nyatanya juga belum bisa menemukan formula perekat ide

ayo dong, bantu saya mengecek. bagian apalagi yang saya lewatkan dalam mencari formula perekat ide?

apa ini » lingkungan yang kompetitif? ah semoga formula perekat ide tidak ada di sana. saya sedang malas berlomba.

lem cinta? ya Tuhan! saya sangat mencintai ide. ehh dia suka sekali meninggalkan saya. ahh lem cinta bukan perekat ide!

oke. karena di sebelah sana ada yang berteriak cinta, kopi segalon, power-glue, mungkin ketiga-tiganya akan saya kunyah sekalian. siapa tahu itu perekat ide yang baik.

tapi kalau nyatanya bukan juga, saya sepertinya harus melupakan formula perekat ide. lalu menggantinya dengan tidur.







P.S: racauan yang terinsipirasi pada kondisi saya benar-benar kehilangan ide. padahal ada proposal penelitian yang harus diselesaikan.

P.S.S: saya tidak menyarankan, bahwa "perekat ide" itu bisa ditemukan melalui tidur loh! :)
read more “Perekat Ide”