Monday, August 9, 2010

Tidak Ada Putih.

source: pic

Hati saya tidak putih. Ada banyak warna. Hijau, biru, kuning, kelabu bahkan hitam.

Penuh juga tambalan di sana sini. Ada yang disulam acak. Ada juga bermotif tisik jelujur.

Saya bukan suka melukis. Tidak juga kelebihan cat air. Hanya saja, setiap kali ada prasangka buruk, ucapan menyakiti, pikiran sesat, atau hal lain hasil persekutuan otak dan teman-temannya, seketika itu pula hati saya berwarna.

Tidak perlu alat pengukur khusus, semakin gelap warnanya, semakin gelap juga apa yang dilakukan otak dan teman-temannya.

Hati saya memang tidak putih. Pernah juga tercemar merah. Merah darah. Terkena belati tajam atas nama kepercayaan. Tentu saja menyakitkan. Ini bukan rasa sakit biasa.

Masih teringat jelas, betapa sakit hati mengkonsumsi glikogen secara berlebihan. Tubuh tidak diberikan porsi yang cukup. Semua glukosa habis untuk memaksa Otak bekerja keras memutar logika. Selebihnya? Dialokasikan untuk Mata. Ya, kerja rodi mengeluarkan air mata. Ah.. sakitnya benar-benar membuat kesal!

Lalu, apa selanjutnya?

Saya tetap membiarkan saja berdarah-darah seperti itu. Menikmati setiap centi sakitnya. Masokis mungkin. Tapi percayalah, ketika kita sangat hafal bagaimana rasa sakit, kelak ketika sekecil apapun bahagia datang, maka kita akan benar-benar bersyukur.

Tapi saya juga tidak ingin berlama-lama pada kondisi ini. Kau tahu kan, memelihara rasa sakit itu tak ubahnya seperti punya bisul besar yang siap bernanah kapan saja dan memberikan infeksi yang jauh lebih parah.

Maka dari itu, berbekal bentuk hati yang ala kadarnya yang dilapisi oleh kulit merah darah, saya membawa hati tersebut ke Dokter. Dokter Terpercaya. Satu-satunya Dokter di dunia ini yang memiliki segala macam jenis obat. Dia, yang Maha membolak-balikkan hati.

Selepas dari sana, saya jadi rajin merawat hati. Minum obat teratur. Menelan pil-pil pikiran positif. Berdamai dengan masa lalu, hingga memaafkan si pemilik belati tajam itu.

Setengah ironis memang. Khasnya manusia, baru rajin merawat ketika sudah sakit. baru rajin mengingat ketika sudah diberikan sentilan. Namun itulah saya, hati saya warnanya memang tidak putih.

...dan kini, setelah beberapa musim silih berganti, pohon jati sudah meranggas dan menumbuhkan daunnya lagi, akhirnya saya dan pemilik belati tajam itu bertemu. Bukan pertemuan biasa, sesungguhnya hanya kata-kata kami yang bertemu. Bukan untuk menghakimi, tapi bertukar kabar dan cerita. Kebahagiaan pastinya. Tidak banyak yang berubah, kecuali kata Maaf yang terdengar lebih ramah di gendang telinga.

Tidak ada lagi dendam yang tersisa. Untuk apa lagi? toh itu bukan Deposito Baik.

Saya sudah sembuh.
Dia juga bahagia.
Apalagi yang lebih melegakan dibanding ini?

Ya. Seharusnya hati memang lapang. Berikan tempat luas untuk memaafkan.
Karena setiap dari kita, memiliki hati yang berwarna.






P.S: Time goes fast. but finally, we know how to talk to each other again. Cheers! :)

3 komentar:

rizakidiw said...

Tapi percayalah, ketika kita sangat hafal bagaimana rasa sakit, kelak ketika sekecil apapun bahagia datang, maka kita akan benar-benar bersyukur......nice it deep

perniquesenja said...

hahaha...nice post jeung...
kebetulan saya org yg terlalu logis (apalagi utk ukuran perempuan, tentunya tdk lazim kan?)
ketika patah hati, saya hanya butuh 2 hari utk menyesali kebodohan saya dan selanjutnya hanya bertobat, berserah diri kepada Yang Maha Membolak-balikkan Hati sampai kebodohan terulang kembali.
Tapi itulah hidup, gk seru kalo tdk berwarna dan terkadang bodoh.

lam kenal ya...:)

Dewi Srikandi said...

@rizakidiw hohohho thank yoouuuu :)

@perniquesenja ya ya ya, wanita memang seharusnya begitu. ini 2010, hidup berakhir karena cinta? mungkin sudah sejarah masa lampau. salam kenal juga ya :)