Thursday, December 30, 2010

Negeri Merah.


Apa rasanya melebur bersama 96.000 manusia berbalut busana merah? Apa rasanya ketika 96.000 manusia ini tiba-tiba diam bersamaan dan menyanyikan dengan lantang lagu Indonesia Raya secara serentak? Apa rasanya memiliki satu suara bersama 96.000 manusia yang terus-menerus mengucap satu kata: Indonesia?

Percayalah, itu surga kecil yang saya rasakan kemarin.

Duduk bersama manusia merah lainnya. Adrenalin terpicu seperti dua kali lipat dibandingkan sebelumnya. Riuh rendah terompet atau teriakan—yang bahkan kau, tidak bisa lagi mendengar suaramu sendiri. Gemetar hebat sewaktu tanpa dikomando, 96.000 manusia ini memiliki gerakan yang sama. Merinding saat seluruh 96.000 manusia ini mengerahkan semangatnya untuk Firman Utina ketika tidak mampu mengeksekusi kesempatan emas pinalti. Semua berteriak. Semua bersuara. Membuncah ke seluruh sudut stadion Gelora Bung Karno.

Ini gila kawan! Ternyata untuk malam ini persatuan mudah diciptakan. Ternyata kedamaian penuh sesak membanjiri Negara ini. Kau tidak lagi memandang The Jak, Bonek, atau sematan-sematan simbol lainnya. Kau tidak perlu lagi rusuh tolol untuk hal yang sesungguhnya kita sebut permainan: sepakbola.

Ini memang gila kawan! sungguh gila! Karena untuk pertama kalinya, saya—dan mungkin semua manusia merah, tidak lagi peduli masalah Piala. Tidak begitu peduli lagi masalah Juara. Semua sudah terbayar dengan kesungguhan perjuangan dari para punggawa Garuda dan semangat suportivitas pendukung. Semua tercipta sebagai satu bingkisan akhir tahun yang tak ternilai.

Sebut saja saya norak. Tapi mungkin inilah setitik oase. Penawar baik untuk semua rindu selama ini. Rindu pada prestasi, berita baik, martabat bangsa yang kuat, atau—sebut saja—kedamaian. Kita terlalu sering disuguhi drama politik busuk, penyelewengan harta Negara dan rakyat, profil-profil pejabat yang ketinggalan hati dan otaknya di rumah, atau teriakan-teriakan pertikaian antara kaum minoritas dan mayoritas. Tapi semalam, Garuda mengepakkan sayapnya ke seluruh antero negeri. Menggetarkan hati manusia merah yang masih memiliki nama Indonesia di dalamnya.

Terimakasih TIMNAS. Kesungguhan perjuangan Anda menggetarkan hati kami. Biarkan saja Malaysia membawa pulang Piala. Toh, kami sudah mendapat Piala yang lebih hebat. Nama Garuda sudah tertera dalam hati dan pastinya di sana ada nama kalian juga. Tetaplah bermain bola. Nikmatilah irama permainannya. Biarkan suara-suara rusak pejabat di organisasi bola kita terus bergaung, kadang-kadang mereka suka lupa tentang teori “Tidak ada yang abadi”, termasuk kesemena-menaan terhadap bangsa sendiri.

Kami menunggumu berlaga lagi. Biarkan suara kami saja yang mengalirkan energi baik untuk kalian. Oya, salam juga untuk manusia hebat yang sering kalian sebut—Opa Riedl. Kami yakin harapan untuk Garuda akan selalu ada ketika Opa Riedl masih bersama kalian.

Dan satu lagi, mau do’akan kami? kadang-kadang manusia merah seperti kami suka labil. Nasionalisme setengah-setengah. Nasionalisme kondisional. Do’akan saja semoga damai dalam nasionalisme bukan milik semalam saja. Saya masih ingin merasakannya esok, esok, dan esoknya lagi. Sampai kita semua tidak mampu lagi menghitung.





PS: Terimakasih untuk teman-teman yang ikut berjuang mengantri tiket, kalian baik sekali! Memberikan kesempatan bagi saya untuk menyeka air mata pertama kali di Stadion Gelora Bung Karno. :')

PPS: Photo Courtesy by Mamet Rockafella and Surya Pratama
read more “Negeri Merah.”

Wednesday, December 29, 2010

Cerita Kedua.

Saat itu, senja hampir menukik ke pelataran terakhir sebelum gelap gulita mengambil posisinya. Waktu kembali bermain api. Meletakkan dengan manis cerita lama dalam secarik percakapan rindu. Percakapan dua pecinta dari masa lalu dengan dua cangkir caffe latte.

"Jadi, ada apa denganmu dan kota ini?" sapa si Nona dalam kesibukannya meniupkan udara dingin ke kopi panasnya.
"Menurutmu?" jawab lawan bicaranya dengan tenang.
"Percayalah, Tuan.. Aku tidak serta merta demikian penasaran untuk menebak alasannya. Karena rasa penasaranku hampir habis tersita oleh penelitian gene expression regulator"
"Hahahaha. Kau sama sekali belum berubah! Sampai kapan kau akan terus mendekam di Laboratorium? Tak heran jika kulitmu pucat. Hampir dapat dipastikan kau jarang menengok matahari"
"Lalu, apa usulmu, Tuan?" tanya si Nona setengah sebal.
"Pergilah besok makan siang denganku. Jangan pernah menolak atau kau akan ku seret keluar dari Lab."
"Nah, sekarang ijinkan aku pamit lebih dulu." lanjutnya kemudian. "Jangan kembali bekerja, lingkar hitam di matamu sudah cukup menandakan bahwa kau butuh tempat tidur, bukan Laboratorium." sahutnya hangat sembari mengusap lembut kepala Nona.

Bagai double-helix DNA, percakapan di kedai kopi itu tak ubahnya sebagai prekursor —unsur pemantik perjumpaan lain yang saling bertautan. Tuan dan Nona rupanya begitu larut. Sepakat untuk mabuk bersama. Menengguk sisa-sisa jamuan cinta masa lalu. Jamuan cinta yang sama manisnya atau mungkin lebih manis. Entah mana yang lebih benar. Karena siapa lagi yang kelak peduli? jika sepenggal kisah terdahulu, datang lagi dan melengkapi?

Ya, Mereka bersepakat atas nama kesempatan kedua.

*
"Kenapa mobilnya berhenti, Tuan?" tanya Nona saat mobil yang mereka kendarai diberhentikan oleh lelaki di sampingnya.
"Entah. Sepertinya ada ban yang kempes" jawabnya setengah panik. "Aku bisa minta tolong? Selagi aku memeriksa bagian yang bermasalah, tolong ambilkan alat pendongkrak di bagasi ya"

Wanita itu menurut. Turun dari mobil tanpa banyak tanya dan berjalan ke belakang, tempat bagasi berada. Alih-alih setumpuk alat dongkrak, di sana ia hanya menemukan satu bouquet mawar merah yang cantik. Entah jumlahnya berapa, yang pasti lebih dari 20 tangkai.

"Mana dongkraknya? Kok malah diam?" kata Tuan setengah berteriak.
"Sejak kapan sekarang alat dongkrak diganti dengan bunga mawar?" sahut Nona dengan suara tak kalah kerasnya.
"Sejak jaman Hippocrates, sayang. Sejak beberapa eksperimennya menunjukkan perulangan yang sama. Bahwa ternyata hormon endorfin seorang wanita bisa didongkrak dengan cinta dalam persatuan beberapa kuntum bunga mawar merah" jelasnya ngawur.
"Boleh kita jalan lagi? Aku sudah lapar" tawar Nona, yang sekarang pipinya sudah merah padam.
"Happy Anniversary, Nona".

*
Musim semi berikutnya, bukan perjalanan mudah bagi Nona. Penelitiannya mengalami masa suram. Fakta-fakta yang dihasilkan membalikkan hipotesis dengan telak. Sementara penyebab utama kegagalan masih terasa samar untuk dipastikan. Tak heran jika laboratorium kembali memenuhi semua waktunya selama 4 bulan terakhir. Tidak siang, tidak malam, semua hampir terasa sama saja. Satu-satunya tanggal yang ia ingat hanyalah kapan penelitian itu harus menemui eksekusi akhirnya.

Tak beda jauh dengan Tuan. Tugas beberapa kali ke luar kota menjadi agenda wajibnya. Entah planet mana yang sedang berputar dekat dengan bumi, gravitasinya terasa lebih kecil dari 9,8 m/s. Ia sering merasa lemah lunglai tak berdaya begitu tiba di rumah. Hitungan 3 jam sehari benar-benar jadi keberuntungan untuknya jika dapat dilalui dengan tidur tenang.

Praktis, Tuan dan Nona jarang bersua wajah. Bahkan kata-katanya sendiri enggan bercinta di udara.

"Hai, apa aku membangunkanmu?" sapa Nona melalui telepon pagi itu.
"Err.. mungkin bisa dibilang begitu" jawabnya sambil memperhatikan jarum jam yang ternyata baru saja menunjukkan waktu 30 menit setelah ia benar-benar terlelap.
"Maafkan aku, Tuan. Hanya saja aku tidak bisa menahan kabar gembira ini lebih lama. Penyusunan tesisku sudah selesai dan tanggal oral examination thesis-ku sudah ditetapkan, yang artinya aku minggu depan akan berperang besar. Entah, meskipun aku sering presentasi, tentu saja kali ini membuat hati tidak karuan, Sepertinya kau harus menjadi supervisorku lagi. Kapan kau ada waktu? Latihlah aku cara presentasi yang baik!" jelas Nona panjang lebar tanpa jeda sedikitpun.
"Tuan? Tuan? kau masih mendengarkanku?"

Nyatanya, Nona hanya berbicara pada udara pagi.
Bahkan ketika uap air kembali dipeluk malam, tidak ada satupun SMS atau e-mail atau telepon permintaan maaf.
Nona kembali diam dalam sejuta praduga.

*
Katakan saja, ini adalah hari Nona. Ketika keberhasilannya mempertahankan segala macam teori, hipotesis dan hasil penelitiannya di depan beberapa profesor berbuah nilai A. Waktu rasanya berjalan lambat di dalam ruang sidang, entah berapa jam sebenarnya ia di dalam tadi.
Hanya jika kau ingin mengetahui, hari ini aku sudah lulus sidang tesis. Tidak, ini bukan dalam rangka mengemis ucapan selamat darimu. Katakan saja, hanya kabar selingan di balik pekerjaan kantormu.
E-mail sent.

Tiga hari berselang sejak Nona tinggal selangkah lagi menuju gelas Masternya. Masih tidak ada balasan e-mail. Tidak juga SMS. Apalagi sebuah telepon.

Taman kota juga sepi. Hanya tersisa samar-samar bayangan Tuan yang sedang duduk di kursi panjang sambil membaca buku. Entah sudah berapa lama mereka tidak bertemu. Sepertinya adegan mawar merah kemarin yang terakhir.

*
Senja kembali menukik ke pelataran terakhir sebelum gelap gulita mengambil posisinya. Tidak ada secangkir caffe latte. Tidak ada degupan jantung yang keras. Tidak ada tatapan hangat mata cokelat. Tidak ada cinta di udara.

Hanya udara dingin teman setia Nona hingga tiba di Amsterdam Airport Schiphol. Entah sudah berapa kali kepalanya menoleh ke belakang dan layar telepon genggamnya. Bergantian. Sampai-sampai ia membiasakan alam bawah sadar untuk melakukannya.
"Aku mencoba menapaki setiap bayanganmu. Mencoba berpacu dengan waktu meraihmu. Entah sahabat mana lagi yang aku datangi. Semua menjawab "tak tahu". Kau terlampau misterius bagiku. Sayangnya, aku bukan wanita misterius untukmu. Berkelanalah semaumu. Dan akan ku biarkan takdir menyinggungkan waktu kita kembali, dengan semua jawaban darimu menjadi hadiah untuk rinduku selama ini"
Email sent.
Airplane flight.
*
"British Airways plane crash caused by 'unknown' ice buildup"
Selanjutnya, hanya berita ini yang beberapa waktu sempat menghiasi daratan Eropa.
Waktu, (mungkin) meredupkan api antara Tuan dan Nona.







Source news
Source pic
read more “Cerita Kedua.”

Hilangnya Sarang Laba-Laba.

Ada waktu yang berjeda sejak terakhir kali meninggalkan cerita.
Katakan saja dua bulan. Tidak lama sebenarnya.
Namun tetap saja, itu... Jeda!

Dan kalian tahu?
Akhir-akhir ini waktu sungguh curang.
Anak-anak waktu yang kita sebut: Detik dan berjumlah banyak itu, mulai membuat ulah.
Mereka berlompatan keluar dari jam pasir dengan beringas,
katanya di sana terlalu sempit.
Tidak cukup menampung semangat mereka untuk mengganti hari.
Merobek kalender.
Mengubah bulan.
Hingga nyaris mengganti tahun.

Untung saja matahari masih berbaik hati.
Memakai gincu paling merah untuk mengecup dahiku.
Bangunkan segera dari kehidupan monokrom
Tanpa hela nafas hanya untuk bekerja.

"Lihatlah otakmu, dia seperti ingin menari-nari dalam kata.
Lihat pula hatimu, sudah bersemu merah jambu tentang cinta yang baru.
Lihat juga tanganmu, sudah enggan menulis laporan penelitian.
Lihat tubuh kurusmu, menginginkan surga lain selain makanan hasil seminar atau rapat"

Ya ya ya.
Matahari, sepanjang pagi ini cerewet sekali.
Ngomel tidak jelas.
Membuat pesan macam-macam.
Sampai-sampai menitipkan pesan juga pada angin atau sekotak permen gulali.

Tapi bagaimanapun aku tidak akan marah padanya.
Hanya dia yang mengecupku dengan super hangat!
Hingga sarang laba-laba di sini juga ikut lenyap.
Sutera tipis pembangunnya terurai satu-satu.
Kembali membuka pintu cerita yang telah lama ditutupinya.

Iya. Sarang laba-laba di sini sudah mulai hilang.
Hatiku... juga hangat! :)





read more “Hilangnya Sarang Laba-Laba.”

Tuesday, October 5, 2010

Perfectionist (not).


Otak, merupakan fitrah yang diberikan Tuhan kepada makhlukNya, lengkap dengan akal yang kemudian menjadikan kita sederajat lebih tinggi dibanding makhluk penghuni bumi lainnya. Tidak kurang dari 100 juta neuron sebagai ‘nyawa’ di dalamnya juga diberikan secara cuma-cuma. Benda ini yang kemudian bertanggung jawab untuk mengatur kerja kompleks dari tubuh, mulai dari menerima rangsangan dari kelima indera, mengatur metabolisme, tekanan darah, suhu tubuh, sintesis protein, menunjukkan realita berbagai rasa emosional, hingga memproyeksikan mimpi.

Tapi lupakan sejenak dengan neuron dan kinerjanya, karena fungsi dari otak yang paling sering kita gunakan adalah untuk berpikir. Entah untuk berpikir hal-hal yang baik, atau untuk berpikir hal-hal yang tidak ada gunanya, ya, setidaknya demikianlah adanya.

Dan katakan saja dalam berpikir tentunya setiap manusia memiliki preferensi tertentu. Memiliki gaya tersendiri dalam merencanakan sesuatu hingga bagaimana langkah eksekusinya. Ada yang cenderung teratur, runut dari awal sampai akhir, ada yang cenderung spontanitas, ada pula yang cenderung melabrak pakem yang sudah ada, bahkan ada yang bingung dari mana harus memulai.

Dari sekian banyak preferensi gaya berpikir, mungkin tidak asing dengan istilah ini—Perfeksionis, yang katanya merupakan cabang lain dari turunan OCD (Obsessive-Compulsive Disorder).

Bagi orang-orang pengidap perfeksionis, maka kami punya pembelaan tersendiri. Jangan pernah salah tanggap. Perfeksionis bukan gaya berpikiran untuk menjadi sempurna, namun bagaimana caranya agar ketidaksempurnaan itu bisa paling minim dimunculkan. Entah menetapkan standar tertentu, menghindari kesalahan teknis, memberikan perhatian lebih pada detil, membuat catatan panjang tentang hal-hal yang krusial hanya untuk menjamin tidak ada hal yang ‘missed’, mengatur dan memilih dengan cermat segala material yang akan digunakan dalam mencapai tujuan, hingga beberapa kali melakukan revisi atas suatu kerjaan.

Untuk sifat yang terakhir, saya akan memberikan sedikit contoh nyatanya: So, well, pernah melihat seseorang yang sedang drafting atau membuat suatu portofolio atau sedang membuat tulisan/laporan ilmiah tapi setelah jadi malah dibuang? Atau setidaknya ia melakukan adegan Ctrl+A, lalu Ctrl+del berpuluh-puluh kali? Kalau Anda belum pernah menyaksikannya, maka dengan senang hati saya akan menunjukkannya pada Anda sesekali.

Sesekali? Iya. Sesekali. Karena untuk kasus saya, saya pribadi hanya memunculkan sifat ini sesekali dan dipengaruhi oleh rangsangan pada hal-hal tertentu. Khususnya untuk hal-hal yang berhubungan dengan personal passion, hal-hal yang menyangkut cita-cita, dan hal-hal yang menyangkut pekerjaan. Selebihnya? Saya menjadi Procrastinator Perfectionist—Tidak terlalu peduli dan seolah memiliki banyak waktu untuk dibuang-buang.

So, Anda mulai takut dengan saya sekarang? Ouh well, tidak salah juga sih sebenarnya. Tapi setidaknya itu membuktikan bahwa saya mengenal diri sendiri hingga ke bagian yang bersemat ‘disorder’.

Lalu, bagaimana dengan Anda? Seberapa jauh Anda mengenal diri Anda? Apakah setipe dengan saya? Ataukah memiliki personal yang jauh lebih baik? Well, kalau iya, selamat untuk Anda!

Tapi percayalah, sesekali cobalah menjadi Perfeksionis, tidak terlalu buruk kok. Kecuali jika tidak tahan, Anda akan sedikit limbung, karena Perfeksionis kehilangan satu kata dalam kamusnya: kegagalan.






P.S: Apa kalian pikir saya harus mulai membuat janji dengan Psikiater? kalau iya, tolong rekomendasikan psikiater ahli yang pintar, baik, ganteng, dan single. sekian.
read more “Perfectionist (not).”

Wednesday, September 22, 2010

Kadaver.

Dante, mungkin jadi pengunjung terakhir perpustakaan malam ini. Menatap ulang buku sakti tubuh manusia “Sobotta: Atlas of Human Anatomy”, beberapa jurnal, catatan kuliah, buku praktikum dan informasi lain yang sebanyak mungkin dapat diperoleh mengenai anatomi.

Bukan menghadapi ujian kelas Anatomi, tetapi ujian calon Asisten Lab. Anatomi lebih tepatnya. Dan sudah menjadi konstitusi umum, untuk dapat direkrut sebagai asisten Anatomi bukanlah sesuatu yang mudah. Mereka─Dosen yang turun tangan langsung dalam perekrutan asisten tidak pernah main-main dalam memberikan materi seleksi. Kualitas perekrutan yang tinggi dan aura kompetitif, tidak heran jika gelar asisten Lab.Anatomi menjadi prestise tersendiri di kalangan mahasiswa kedokteran di kampus ini.

Maaf mas, perpustakaan sebentar lagi tutup. Silahkan dibereskan buku-bukunya dan kembalikan ke rak semula” kata petugas perpustakaan mengalihkan perhatian belajarnya.

Oh iya, Bu. Sebentar lagi saya rapikan” jawabnya kemudian.

Setelah mengambil tas di loker, Dante memutuskan tidak pulang. Ruang terbuka antara ruang kelas dan laboratorium Mikrobiologi yang sering disebut selasar oleh para mahasiswa di sini menjadi tempat pemberhentian berikutnya. Tampak di sana, masih ada tiga orang mahasiswa yang sedang berkutat dengan laptop memanfaatkan wi-fi gratis. Dipilihnya satu meja kosong, dan ia kembali tenggelam dalam catatan Anatominya.

Di tengah imajinasinya dengan scalpel yang mengiris lapisan kulit mulai dari epidermis, dermis, lemak subkutis, fasia superfasial, fasia dalam, otot, tiba-tiba suara seorang Bapak membuyarkan konsentrasinya.

Sedang belajar Anatomi? Ujian atau asisten?” sapanya mengawali pembicaraan.

Oh..untuk asisten, Pak” kata Dante sambil membereskan kertas yang berada di kursi sebelahnya supaya bisa diduduki.

Mau belajar bersama saya?” tawarnya kemudian.

Err.. bukan bermaksud tidak menghargai, Pak. Tapi kalau boleh saya tahu, siapa Bapak sebenarnya?” jawab Dante ragu.

Asal muasal saya tidak penting, yang pasti saya cukup mahir dalam Anatomi” yakinnya kemudian.

Dante mengenyahkan segala rasa penasarannya. Karena diskusi anatomi dengan Bapak Misterius ini berjalan menyenangkan. Dari gagasan para ahli anatomi yang menentukan dari mana sebaiknya mempelajari tubuh manusia, lalu ke manubrium, xiphoid process, otot di antara tulang iga, saraf toraks hingga ke jantung─yang menurut Bapak tersebut jantung merupakan ‘jantung’ persoalan dari penyakit.

Akhirnya, diskusi malam itu diakhiri dengan ucapan “Semoga Sukses” dari si Bapak Misterius. Belum sempat mengucapkan terima kasih, lelaki tersebut telah menghilang secepat kepala menoleh.

*
Ujian asisten Anatomi dibagi dalam dua sesi: ujian tulis dan praktik. Dante tidak mengalami kesulitan mengerjakan sesi pertama. Betapa mengejutkan, apa yang menjadi bahan diskusinya semalam benar-benar membantu.

Satu jam kemudian, bersama dosen dan mahasiswa lain, mereka telah berada di dalam lab, masing-masing mengelilingi kadaver.

Kita semua tahu, tubuh-tubuh di sini dulunya adalah manusia yang hidup, bernafas dan memiliki perasaan, dan ketika kematian menghadapi, mereka dengan murah hati mendermakan tubuhnya untuk Ilmu Pengetahuan. Di samping setiap kadaver ada lembar kerja untuk sesi ujian praktik ini. Kerjakan dengan tenang dan penuh hormat” perintah seorang dosen.

Setelah dipersilakan bekerja, Dante memberi hormat kepada kadaver di sampingnya dan memeriksa nama label yang terkait pada ibu jari kakinya. “Seorang Profesor. Luar biasa dedikasinya” batinnya dalam hati. Lalu dibukanya kain penutup wajah. Seketika dia diam. Dia tahu siapa orang ini. Setidaknya sebelas jam yang lalu.


-dan jangan pernah bertanya berapa umur kadaver.








P.S: Kata-kata kedokteran di atas diperoleh dari Sobotta (mengintip sedikit), Doctors karya Erich Segal, dan Google. yup. mesin hampir-tahu-segala-hal kecuali jodoh saya. Sekian.
read more “Kadaver.”

Tuesday, September 21, 2010

Popcorn.

Kau tahu? Hidupku itu tak ubahnya seperti mesin pencipta “popcorn”. Meledak-ledak. Aku sampai begitu hafal dengan pola ledakannya.

Ya. Tiga tahun dalam pekerjaan sebagai pegawai bioskop menjadikanku orang yang cukup akrab dengan popcorn. Mau dengar ceritanya? Saranku, ambillah setumpuk popcorn untuk menemanimu!

Desember 2006
“Anda diterima bekerja di sini. Tugas utama Anda menjadi pelayan CafĂ©. Menyiapkan pesanan minuman dan makanan untuk penonton bioskop. Sebentar lagi, pegawai yang lebih senior akan memberikan pelatihan bagaimana mengoperasikan beberapa alat, termasuk mesin popcorn yang baru saja datang itu” kata Bapak setengah baya yang saat itu resmi menjadi atasanku.

“Baik, Pak. Terimakasih atas kesempatan yang diberikan” jawabku dengan perasaan yang penuh kegembiraan.

Mungkin bagi sebagian besar orang, pekerjaan ini bukanlah suatu pencapaian besar dalam sejarah karir, tapi aku amat bersyukur karena artinya aku dapat hidup mandiri. Tidak lagi menjadi tanggungan Tante Ira─adik kandung Mama yang tidak punya pilihan lain, selain membagi kehidupan pribadi keluarganya denganku─ponakan yang resmi menyandang gelar yatim piatu semenjak 15 tahun yang lalu.

Februari 2007
Aku makin mahir sekarang dalam mengoperasikan berbagai alat makanan dan minuman. Tapi, tetap saja kecintaanku pada mesin popcorn lebih besar dibanding yang lain.

Aroma khas starch terpanggang pada temperatur 180 oC. Bunyi meletup seperti ingin mendobrak pintu panci bertekanan. Rasa gurih dan kriuk yang mengakrabkan hubungan gigi dan lidah. Kandungan non-sugar serta, takdirnya untuk dipilih banyak pengunjung sebagai teman mereka selama pemutaran film, membuatku merasa mendewakan popcorn dalam pekerjaan ini.

Terkadang aku usil, bereksperimen dengan popcorn. Komposisi margarine yang aku main-mainkan. Temperatur yang sedikit aku turunkan dan dibarengi dengan tekanan yang sedikit dinaikkan membuatku seolah patut meraih nobel atau setidaknya ucapan “terima kasih” berkali lipat dari tiap pengunjung. Popcornku rasanya beda!

..dan saat itulah, popcorn mengenalkanku pada Evan.

September 2008
“Hei! Apa kabar? Apa perlu aku menyebutkan apa pesananku? Ku yakin, kau sudah hafal di luar kepala” sapa Evan ramah beberapa menit sebelum film pilihannya akan diputar.

“Ya ya ya, aku tahu pesananmu. Bersabarlah sebentar akan aku kubuatkan”

“Ngomong-ngomong kemana saja kau? Seperti begitu sibuk, tempat ini jarang kau kunjungi lagi” kataku kemudian sambil menyerahkan pesanannya.

“Umm..ya begitulah. Bekerja pada kapitalis tak ubahnya jaman Cultuur Stelsel, kau bernafas di kantor untuk bekerja. Dan jika kau tak keberatan, selepas aku menonton, akan ku ceritakan kemana saja aku pergi selama satu bulan terakhir”

April 2009
Evan sudah seperti sahabatku. Saat ia mengunjungi bioskop secara rutin dan memesan setumpuk popcorn, itulah saat-saat berharga kami ku, dan tebaklah! Hari ini dia mengajakku jalan-jalan keluar.

Oke, aku tidak memiliki keyakinan cukup tinggi untuk menyebutnya sebagai kencan, tapi sebut saja sifat alami wanita, aku membawa baju ganti yang cukup bisa dikategorikan cantik hari ini.

Juni 2009
Bioskop ini telah kokoh berdiri lagi. Semenjak dua bulan lalu, entah bom keparat dari mana datangnya meledakkan bangunan berlantai 7 ini. Aku tahu aku tidak boleh mengutuk sesama, tapi sepertinya itu cukup pantas untuk mereka─yang hobi menyalakan sumbu peledak.

Tapi ya sudahlah, yang penting bioskop ini kembali beroperasi. Pekerja yang dulu, tetap mendapatkan pekerjaannya. Dan aku? Siap dengan mesin popcorn ku.

Tidak. Aku tidak mengoperasikannya. Hanya berdiri di sebelahnya. Mengamati sekeliling. Siapa tahu aku bertemu Evan lagi. Atau mungkin bertemu kalian, pengunjung bioskop baru dan jika kalian melewati mesin popcorn, jangan terlalu cuek. Terkadang aku ingin disapa.

Aku─sosok tak kasat mata akan senang hati menampakkan diri.


read more “Popcorn.”

Monday, September 20, 2010

Sang Pencerah: Nurani Yang Terketuk.


Tidak berlebihan jika saya menyebut film ini sebagai pemilik harmonisasi unsur-unsur sinema yang baik dari karya asli putra-putri Indonesia.

Film bertemakan sejarah budaya dengan setting kolosal yang apik, nyaris membuat saya menikmati setiap alur yang disajikan. Tidak ada penggambaran yang berlebihan, Hanung Bramantyo benar-benar jeli meletakkan dan memilih setiap aktor/aktris, detil setting dan backsound untuk ditampilkan dalam film.

Pilihan tutur kata dalam dialognya juga kuat. "Kiasan yang sederhana"─kira-kira seperti itu saya lebih suka menyebutkannya. Karena pada beberapa dialognya, kita─sebagai penonton memiliki ruang leluasa untuk mengambil kesimpulan tentang maknanya. Tidak ada sesuatu yang menggurui, tapi percayalah mereka berhasil menyentil apa yang disebut keyakinan diri pada Agama.

Namun demikian, film ini─jika saya boleh menambahkan, bukan film Islam. Film ini mampu melintasi berbagai keyakinan. Oke, walaupun tidak dapat ditampik, karena secara gamblang dapat dilihat bahwa kemasan film ini bernamakan "Islam", tapi saya lebih suka melihat jauh di luar─sekedar─kelahiran Muhammadiyah. Tapi lebih kepada perihal kita─sebagai makhluk duogami; yaitu sebagai umat Tuhan dan teman sesama, yang kemudian menyangkut bagaimana kita bisa menempatkan dua fungsi tersebut secara seimbang. Saya yakin, setiap keyakinan manapun memiliki maksud yang sama untuk hal ini, bukan?

Lalu, katakan saja ini bagian favorit saya dari film ini. Seperti sifat alami manusia pada umumnya, kita mungkin makhluk paling cerdas di muka bumi ini dengan disisipi keahlian khusus berupa kepemilikan atas segudang judgement untuk orang lain. Judgement tadi tentunya semakin membuat kita buta. Lalai melihat ke dalam dan menilai diri sendiri secara obyektif.

"padahal manusia berhak salah. Dan manusia berhak berusaha menjadi benar"

...dan maafkan saya, jika kali ini harus membagi sedikit kata-kata yang mungkin akan semakin memperjelas kemana muara film ini menuju. Tapi tolonglah sependapat, siapa yang kemudian tidak menyetujui hal ini:

"Orang untuk tergelincir (dalam memiliki keyakinan) itu gampang, dia yang hanya memakai akal saja atau yang hanya memakai hati saja"

Lalu yang ini:
"memiliki prinsip itu baik. Tapi menjadi fanatik itu adalah ciri-ciri orang bodoh"

Tidak usah paksa saya membeberkan beberapa peristiwa di Negeri kita akhir-akhir ini tentang suatu penyakit bernama "fanatik" dan akibatnya bagi manusia lain─yang terpaksa menerimanya hanya karena mereka mungkin berbeda dalam cara memanjatkan do'a padaNYA.

Kemudian sebagai penutup review ngawur saya ini, saya punya keyakinan yang sama dengan istri Haji Ahmad Dahlan─setidaknya kelak, di saat saya bertemu dengannya─orang yang tulang rusuknya saya curi sebilah, saya berharap kalimat ini yang akan keluar "saya tidak melakukan Istikharah seperti yang dipesankan Bapak. Tapi saya memiliki hajat. Bermunajat kepada Allah bahwa saya yakin terhadap calon suami saya ini"

Saya tahu, itu hadiah terbaik yang pernah diterima oleh calon suami.

Sekali lagi, tolonglah sependapat dengan saya :)







P.S: satu-satunya kekurangan dari film ini yang saya ketahui, hanyalah saya tidak diberikan kesempatan untuk ikut Casting. Sekian.
read more “Sang Pencerah: Nurani Yang Terketuk.”

Saturday, September 18, 2010

Pandora


Simpan kotak ini. Bukalah ketika hidup tak lagi memberikan jawaban” Kata-kata itu yang sempat ditangkap oleh seorang Ibu. Kata-kata yang terdengar samar dari lelaki berjubah hitam.

Arah kedatangannya tak terjamah. Arah kepulangannya pun tak berbekas.

Entah ada maksud apa dari kejadian sore ini. Sang Ibu nyaris tidak menaruh rasa penasaran lagi ketika senja dipecahkan oleh tangis 3 balitanya yang menuntut untuk segera diberi makanan.

Miris.

Hanya gendongan hangat yang mampu diberikan.

*

Gadis itu mungkin berusia 17 tahun. Menangis keras di pinggir sebuah jembatan penyebrangan. Tangan kanannya menggenggam hasil test-pack. Tanda positif diperlihatkan di sana. Tidak hanya dijustifikasi oleh 1 alat, 5 test-pack dari yang paling murah hingga termahal pun menunjukkan hasil yang sama.

Ya. Dia hamil. Hamil sebelum pernikahan.

Simpan kotak ini. Bukalah ketika hidup tak lagi memberikan jawaban” tiba-tiba seorang lelaki berjubah hitam mengalihkannya dari menangis.

Otaknya berputar lambat kala itu, tak ada satupun kata yang mampu terucap. Hingga si jubah hitam tak tertangkap pandangan lagi.

*

Kasus korupsi tidak hanya menyeret mantan pejabat terkenal ke dalam hukuman hotel prodeo. Harta, terkuras habis. Keluarga, melenggang pergi dengan menanggung malu. Dan tubuh? Harus menukarkan sebagian kesadarannya dengan penyakit stroke dan depresi berat.

Ruang 101 adalah rumahnya sekarang. Ruangan bercat putih. Bersprei putih. Tanpa televisi atau AC. Hanya 1 meja dan 1 kursi pelengkap furnitur.

“Mari Pak, bangun dulu. Waktunya minum obat” kata Suster Perawat.

“S-s-saya sudah b-bosan m-mi-minum obat, Sus” jawab si Mantan Pejabat terbata-bata.

“Jangan begitu, Pak. Ini demi kebaikan Bapak juga. Oya, Bapak pasti senang hari ini, karena ada yang mengirimkan hadiah untuk Bapak”

“Sebuah kotak dengan tulisan: “bukalah ketika hidup tak lagi memberikan jawaban” lanjut si suster kemudian.

*

“Ditemukan 3 orang dalam keadaan meninggal. Alasan kematiaannya masih diselidiki hingga saat ini. Yang jelas mereka memiliki waktu kematian yang nyaris mirip satu sama lain.”

“Apa tidak ada tanda lain di tempat kejadian perkara, Pak?” cecar wartawan TV Swasta itu.

“Tidak. Tidak ada. Kecuali sebuah kotak hitam yang terbuka dan bertulis Pandora yang ditemukan di samping tubuh mereka”.



Lelaki jubah hitam mematikan TV. Beranjak pergi sambil membawa serta kotak hitam lainnya.






P.S: Cerita ini saya (iseng) ikut sertakan dalam Ubud Writers Festival. Monggo mampir ke sini, jika suka silahkan di-vote :)
read more “Pandora”

Thursday, August 19, 2010

65.


11 jam 25 menit menuju 65 tahun.
Jika ibu pertiwi mampu bersuara, apa dia sedang menangis tersedu sekarang?
Atau malah diam membisu?

Mungkin ibu pertiwi tidak pernah bermimpi.
Tanah airku aman dan makmur.
"Pulau kelapa yang amat subur"
berganti menjadi KKN yang menjamur.

Terlalu banyak ambisi golongan yang berkedok dalam tameng kepentingan rakyat.
Pun keharmonisan koalisi dalam tameng Stabilitas Nasional.

Padahal waktu terus berputar.
Rakyat sudah tidak bisa menanti.
Kepercayaan mereka sudah hampir tamat.
dan Utang Negara? "biar generasi esok yang menanggung (lagi)".

Kita. dan Hanya kita yang menciderai apa yang telah diwariskan ratusan ribu nyawa pendahulu.
bukan Malaysia. bukan IMF. bukan Amerika. bukan Cina. bukan Mereka.

Lalu, Apa kabar Nasionalisme?
Sudah diperjualbelikan di pasar Koruptor.
Sebagian sudah menciut di hadapan bangsa lain.
Sebagian lagi, menua di buku sejarah.

Media massa pun terkadang ditunggangi kepentingan lain.
Memojokkan salah satu pihak dan mematikan karakternya.
Rakyat? (terus) Terprovokasi.

Harusnya rakyat juga cerdas. Tidak sekedar mengkritisi. Tapi memperbaiki.
Toh Negara sudah memberikan hak super premium: "Kedaulatan di tangan rakyat"

Namun sayang, karena Pemerintah bermain kebijakan.
Rakyat menjadi bidak-bidak caturnya.
maka.. BOOM! Krisis Kepercayaan makin lebar.

Ah.. mengesalkan harus membicarakan hal yang sama beberapa kali.
Indonesia, rupanya lambat belajar.
Kita, terlalu sering berdebat.
Masalah, hampir berkarat.

Tapi, bukannya hidup harus optimis, kan?
Capek kan kalau kerjaannya cuma menyalahkan orang melulu?
Biarkanlah rasa malu kepada Ibu Pertiwi mengisi jiwa.

Sematkan lagi label "Warga Negara Indonesia" dengan bangga.
Gerakkan otak, tangan dan kaki membangun negeri.
Pelan-pelan. Sedikit demi sedikit.

Kembalikan lagi kedaulatan rakyat.
Kembalikan lagi karakter bangsa.
Sudah seharusnya kita segagah burung Garuda, bukan?

Stop provokasi. Stop disintegrasi. Stop kritisi negatif.
Mulailah jadi warga Negara yang cerdas, hingga ketika badan dikandung tanah pertiwi, meninggalkan jejak harum.

Merdeka Indonesiaku. Tunggu kami untuk "Memerdekakan" mu sekali lagi. (Amin)





P.S: ahh... Indonesia, kamu tetap aku cinta kok :*
read more “65.”

Monday, August 9, 2010

Tidak Ada Putih.

source: pic

Hati saya tidak putih. Ada banyak warna. Hijau, biru, kuning, kelabu bahkan hitam.

Penuh juga tambalan di sana sini. Ada yang disulam acak. Ada juga bermotif tisik jelujur.

Saya bukan suka melukis. Tidak juga kelebihan cat air. Hanya saja, setiap kali ada prasangka buruk, ucapan menyakiti, pikiran sesat, atau hal lain hasil persekutuan otak dan teman-temannya, seketika itu pula hati saya berwarna.

Tidak perlu alat pengukur khusus, semakin gelap warnanya, semakin gelap juga apa yang dilakukan otak dan teman-temannya.

Hati saya memang tidak putih. Pernah juga tercemar merah. Merah darah. Terkena belati tajam atas nama kepercayaan. Tentu saja menyakitkan. Ini bukan rasa sakit biasa.

Masih teringat jelas, betapa sakit hati mengkonsumsi glikogen secara berlebihan. Tubuh tidak diberikan porsi yang cukup. Semua glukosa habis untuk memaksa Otak bekerja keras memutar logika. Selebihnya? Dialokasikan untuk Mata. Ya, kerja rodi mengeluarkan air mata. Ah.. sakitnya benar-benar membuat kesal!

Lalu, apa selanjutnya?

Saya tetap membiarkan saja berdarah-darah seperti itu. Menikmati setiap centi sakitnya. Masokis mungkin. Tapi percayalah, ketika kita sangat hafal bagaimana rasa sakit, kelak ketika sekecil apapun bahagia datang, maka kita akan benar-benar bersyukur.

Tapi saya juga tidak ingin berlama-lama pada kondisi ini. Kau tahu kan, memelihara rasa sakit itu tak ubahnya seperti punya bisul besar yang siap bernanah kapan saja dan memberikan infeksi yang jauh lebih parah.

Maka dari itu, berbekal bentuk hati yang ala kadarnya yang dilapisi oleh kulit merah darah, saya membawa hati tersebut ke Dokter. Dokter Terpercaya. Satu-satunya Dokter di dunia ini yang memiliki segala macam jenis obat. Dia, yang Maha membolak-balikkan hati.

Selepas dari sana, saya jadi rajin merawat hati. Minum obat teratur. Menelan pil-pil pikiran positif. Berdamai dengan masa lalu, hingga memaafkan si pemilik belati tajam itu.

Setengah ironis memang. Khasnya manusia, baru rajin merawat ketika sudah sakit. baru rajin mengingat ketika sudah diberikan sentilan. Namun itulah saya, hati saya warnanya memang tidak putih.

...dan kini, setelah beberapa musim silih berganti, pohon jati sudah meranggas dan menumbuhkan daunnya lagi, akhirnya saya dan pemilik belati tajam itu bertemu. Bukan pertemuan biasa, sesungguhnya hanya kata-kata kami yang bertemu. Bukan untuk menghakimi, tapi bertukar kabar dan cerita. Kebahagiaan pastinya. Tidak banyak yang berubah, kecuali kata Maaf yang terdengar lebih ramah di gendang telinga.

Tidak ada lagi dendam yang tersisa. Untuk apa lagi? toh itu bukan Deposito Baik.

Saya sudah sembuh.
Dia juga bahagia.
Apalagi yang lebih melegakan dibanding ini?

Ya. Seharusnya hati memang lapang. Berikan tempat luas untuk memaafkan.
Karena setiap dari kita, memiliki hati yang berwarna.






P.S: Time goes fast. but finally, we know how to talk to each other again. Cheers! :)
read more “Tidak Ada Putih.”

Thursday, August 5, 2010

Kau Mau?

source: pic

Mungkin saat ini, kamu tengah sibuk di luar sana. Berkutat dengan para klien, belajar dengan buku setumpuk, atau melakukan hal serupa yang membuat dahimu berkerut hingga tidak ada waktu mencukur jambang di kedua pipi.


Kalau begitu, ku kenalkan saja diriku.

Aku adalah 1 wanita dari triliyun wanita di dunia ini,
dan Aku adalah satu-satunya wanita yang membawa kabur sebelah tulang rusukmu.

Eits..! Jangan dulu protes!
Sebelum kau menuntut pengabdian seumur hidup atas aksi pencurian tulang rusukmu itu, akan aku ceritakan sedikit rahasia kecilku.
Rahasia yang menyenangkan kok.

Kau siap?

*****

Mungkin aku bukan wanita yang seutuhnya sempurna.

Aku diberi faring yang cukup rentan terkena faringitis, berikut dengan tonsil kanan dan kiri yang terkadang meradang membuatku susah makan dan demam.
Padahal aku senang bersenandung, aku bermimpi di setiap kau berulang tahun nanti, akan selalu ada aku yang menyenandungkan rangkaian kata dan melodi indah untukmu.
Tentu saja tidak bergaya seperti diva, tapi dari senandungku, kau akan tahu jika aku memujamu di setiap tangga nada.

Lalu, jika di awal perjumpaan kita kelak, kau datang membawa cokelat dan bunga. Percayalah, bukan aku tidak menyukai buah tanganmu. Tapi tonsil kananku menolak cokelat. Dia amat sensitif. Sedikit terpancing, batuk-batuklah hadiahnya.

Jangan tersinggung juga jika suatu saat kau mengajakku kencan di pinggir jalan, dan aku menolak gorengan yang kau belikan, percayalah sayang, itu faringku yang berbicara. Dia sudah memasang papan larangan besar untuk menolak masuknya gorengan. Tapi sesekali tentu tak apa, terkadang aku bisa menang mencurangi faring kok.

Tapi yang paling penting adalah aku akan mencintaimu melebihi cintaku dari makhluk bernama Es Krim. Kau tahu kan? Jika sudah berhadapan dengan makanan ini, bagai tak kenal panas terik atau hujan deras, jika otakku memiliki keinginan menyantapnya, maka faring dan tonsil akan mundur teratur. Namun, sepertinya beberapa waktu ke depan, aku akan berpuasa menjauh darinya. Jadi, kau tidak usah cemas, saingan terberatmu sudah aku bereskan.

Oya, maafkan juga jika kelak masakanku sedikit hambar. Kurang greget pedasnya. Kau tahu kan? Ini lagi-lagi karena faring dan tonsilku. Senyawa pedas hanya akan membuat mereka menjadi luka. Lagipula jika tak banyak membeli cabai, artinya aku tidak akan menghabiskan uang belanja kan? Terlebih lagi, saat ini harga cabai mahal. Betul kan?

Jadi, mungkin aku akan sedikit monoton. Tak banyak pilihan makanan yang bisa aku leluasa sajikan. Hanya akan berkutat seputar rebus dan kukus. Tapi kurasa itu menyehatkan. Dengan sedikit menghindari kenikmatan-kenikmatan itu, aku yakin kita masih bisa saling melihat rambut yang memutih bersama.

Kau mau?





P.S: Yup. Say no to spicy, fried foods, chocolate, and ice cream. Please be nice heart and brain. Control my body well. :'(

P.P.S: and Puhleeaaseee don't suggest to take Surgery. It scares me.
read more “Kau Mau?”

Sunday, August 1, 2010

Persepsi Pulang.

source: pic

Jangan dulu pulang. Aku sedang menenun selimut rindu. Kau kenakan nanti, biar kau tahu rasanya ketika jauh dariku.

Jangan dulu pulang. Mesin tenun ini sudah tua. Lambat sekali menyambung antar benang. Ku rekatkan warna jingga dan biru, dia berikan hijau.

Jangan dulu pulang. Tempayan di dapur belakang juga belum penuh. Air mataku lambat sekali menetes. Kelak jika sudah, ku buatkan secangkir teh setiap pagi. Rasakan getirnya air mataku di sana.

Jangan dulu pulang. Lukisan tentangmu juga belum selesai. Palet cat di sini masih kosong. Inspirasiku sedang jalan-jalan mengikuti langkahmu.

Jangan dulu pulang. Aku sedang memasak Cookies. Mereka sedang sauna di dalam oven. Mungkin masaknya agak lama, karena aku menyimpan Senyumku di dalam sana. Senyum yang beku karena kamu pergi.

Jangan dulu pulang. Belajarlah lebih lama lagi di luar sana. Resapi rasanya dirimu jika tanpa aku.

Jika sudah, maka kau boleh pulang.
kebetulan juga Selimut Rindu sudah jadi. Tempayan sudah penuh.
Lukisan Dirimu juga sudah selesai.
dan Cookies Senyum pun telah matang.

*****

Aku menunggu.

1 jam,

2 hari,

3 minggu,

1 tahun,

Kenapa kamu tidak jua pulang?

Apa peta hatiku telah hilang?
Apa Kau tertinggal kereta?
Apa waktu menutup penglihatanmu?

Atau...

memang kamu yang tak ingin pulang?


read more “Persepsi Pulang.”

Tuesday, July 27, 2010

Candu Kereta.

source: pic

naik kereta itu candu. kau seperti punya kamus baru tentang manusia, yang bersumber dari pengamatan bebas. wanita berpakaian kantor lengkap, seorang anak yang terkantuk-kantuk atau lelaki muda yang enggan menukar kenyamanan duduknya untuk seorang wanita.

suatu saat, kau dapat memilih tempat duduk dimanapun kau inginkan. deretan gerbong kosong dan kursi busa berwarna hijau. namun tak jarang juga, kau harus memberikan latihan ekstra pada kedua kaki untuk berdiri sepanjang perjalanan.

suatu saat, kau hanya mendengar suara besi-besi yang beradu dengan rel kereta. berdecit, dengan irama yang menggelitik telinga. namun di lain waktu, suara penumpang muda-mudi yang super berisik, wanita karir yang berbincang melalui handphone, ibu-ibu rumah tangga mengeluh harga cabai naik, akan segera mengkontaminasi firumenmu.

suatu saat pula, kau akan dapati matahari senja memaksa masuk di sela-sela tirai. semburat tipis jingganya seperti menggoda untuk dikemas dan dibawa pulang. kau tahu kan? deposito abadi. menghangatkan ketika angin malam terlalu bengis atau hujan yang tak enggan pergi.

namun terkadang, kau harus pulang ditemani malam. jika begini, maka setiap gerbong akan mengalunkan suara ultrasonik. melodinya bagai lullaby ampuh untuk mengistirahatkan matamu. sejenak. hingga tiba di tujuan.

jika mata enggan jua terpejam, bebaskan matamu dengan pandangan di luar sana. jika kau beruntung, maka kau akan dapati biasan cahaya lampu dari kendaraan atau rumah penduduk yang menyerupai deretan konstelasi cantik. bebaskan imajinasimu, sebut saja sesuai keinginanmu. Cassiopeia. Centaurus. Horologium. Orion. Pegassus. atau Coryoxiumus? :p

jika sudah begini, siapa yang kemudian tidak jatuh cinta pada kereta?
toh hidup pun tak jauh dari filosofi kereta.

sementara.

duduk sementara di kursi penumpang.
bertemu dengan berbagai macam orang.
setiap orang memiliki cerita perjalanannya tersendiri
dan setiap orang akan kembali ke Sang Hakiki.

Jadi, mulailah mencandu kereta.
Banyak kejutan menarik yang sayang dilewatkan begitu saja.


read more “Candu Kereta.”

Wednesday, July 21, 2010

INCEPTION. Your Mind is the Scene of the Crime. (2)

Caution: This writing contains spoiler. If you haven't watched yet, Inception (1) might be appropriate to be read. Trust me, I won't ruin your curiosity! :)

>>Debateable

Yup. Mari sekarang kita memuaskan hasrat Cristopher Nolan, yang tujuan utamanya dalam menghadirkan film ini adalah membuat para penonton bingung. Kata-kata di dalam sini hanya sekedar spekulasi, bentuk penghargaan terhadap film yang membuat saya selalu berpikir, dari awal hingga akhir.

Well.. Mr. Nolan, here they go!

#1 Speculation
Mari lupakan sejenak adegan Cobb terdampar di pantai yang kemudian bertemu Mr. Saito (tua). karena ini merupakan bagian cerita akhir. atau alur mundur. Mari lompat pada bagian Cobb dan Arthur sedang berada di Istana Mr.Saito (muda). dari scene ini, bisa dispekulasikan:
1. Cobb akan mengekstraksi informasi rahasia dari Mr. Saito, yang artinya tempat kejadian: dalam mimpi.
2. The Dreamer pada saat di Istana Mr.Saito (muda)/mimpi layer 2 adalah Arthur.
3. Mr. Saito menyadari berada di dalam mimpi. sehingga informasi sengaja ada yang dihilangkan.
4. Misi gagal. Arthur, Cobb, Mr. Saito masuk ke mimpi layer 1.
5. The Dreamer + The Architect mimpi layer 1/kerusuhan massa: Nash.
6. Misi pada mimpi layer 1 kembali gagal.
7. Bagian Extraction Ideas ini berakhir di dalam kereta. atau dengan kata lain, scene kereta: real.

#2 Speculation
"Inception" sesungguhnya baru dimulai, yaitu pada saat Mr. Saito menawarkan pekerjaan pada Cobb untuk menanamkan ide pada Robert Fischer. dari scene ini, kita masih meraba tentang masalah sebenarnya yang dimiliki Cobb yang membuatnya tidak dapat kembali ke Amerika.

Cobb menyetujui dan mulai mengumpulkan anggota tim. perencanaan Cobb ada 3 layer mimpi yang ingin diciptakan dengan pembagian tugas:
1. The Architect: Ariadne.
2. The Forger/Penyamar: Eames
3. The Dreamer Layer 1 (supir Van): Yusuf, sekaligus peramu senyawa sedative.
4. The Dreamer Layer 2 (Lift): Arthur.
5. The Dreamer Layer 3 (salju): Eames.
6. The Mark/Subyek yang akan disisipkan ide: Robert Fischer.
7. The Tourist: Mr. Saito :p
8. Konsep Insepsi Ide: mengubah ide ke dalam bahasa emosi yang direncanakan dengan memproyeksikan Ayah Robert, sehingga diharapkan ide yang dimasukkan dapat se-alami mungkin.
9. Pada tahap persiapan misi insepsi, semakin diketahui bahwa Cobb memiliki permasalahan serius dengan Mal-sang Istri. Rasa bersalah Cobb akibat kematian Mal, membawa Cobb "memenjarakan" Mal dalam kenangan. Akibatnya, proyeksi Mal selalu muncul dalam setiap mimpi Cobb meskipun itu bukan mimpinya.

#3 Speculation
Eksekusi Misi Insepsi.
Scene: Hujan-Penculikan Fischer-Lompat Jembatan
Setting: Mimpi Layer 1
Rencana awal berjalan mulus, kecuali 1: ternyata Fischer memiliki pertahanan alam bawah sadar terhadap Extractor. dan pertahanan ini terlatih dengan baik. Hal yang 'kurang' diantisipasi sebelumnya mengantarkan Mr.Saito tertembak. The Forger-Eames beraksi menjadi Peter Browning dan berusaha mencari tahu hubungan Ayah dan Anak. Selain itu dari mimpi ini diperoleh kode safety box: 528-491.

Scene: Hotel-Lift Setting: Mimpi Layer 2
Cobb memproyeksikan dirinya sebagai Mr.Charles-Pelatih Alam Bawah Sadar Fischer,Jr. sedangkan Eames dan Saito mengalihkan perhatian 'tentara pertahanan' Fischer. Arthur, memasang bom di kamar 491 yang menurut desain dari Ariadne, tepat berada di bawah kamar 528. Bom ini nantinya akan digunakan untuk memberikan 'tendangan' ke semua subyek untuk kembali ke mimpi layer 1. yang walaupun rencana ini gagal, karena Arthur harus mengantarkan 'tendangan' melalui lift yang jatuh. yup. karena gravitasi nol yaitu, saat Yusuf yang melompat dari jembatan terlalu awal.

Kamar hotel 528 dan seperangkat alat pencipta mimpi yang ditemukan Arthur, merupakan akal-akalan Cobb,dkk untuk meyakinkan Fischer bahwa dia dalam pengintaian Extractor, yang kemudian menempatkan Peter Browning sebagai orang yang akan mengkudeta kekuasaan Robert Fischer, Jr. dengan adanya kondisi ini, Fischer semakin percaya pada Cobb/Mr.Charles sehingga mau dibujuk untuk ke layer di bawahnya, dengan alasan: mengungkap usaha kudeta Browning. *akal-akalan loh ya!* :)

Scene: Salju-Rumah Sakit Setting: Mimpi Layer 3
Semua rencana berjalan lancar, kecuali proyeksi Mal yang tiba-tiba muncul dan menembak mati Fischer. Fischer terperangkap di Limbo. *kenapa Fischer di Limbo? alasannya sudah jelas, jadi tidak perlu dibuat spekulasinya*.

Cobb dan Ariadne memutuskan mengikuti Fischer ke Limbo untuk membawanya kembali. sedangkan, Eames-The Dreamer pada layer ini, akan menghancurkan rumah sakit dengan bom untuk memberi 'tendangan' kepada semua subyek.

Setting: Limbo
Pada scene ini, terungkaplah misteri tentang Mal, yaitu subyek pertama yang disisipkan ide oleh Cobb. di sini, Cobb telah memiliki keteguhan hati tentang konsep ketidak-nyataan Mal. dan akhirnya melepaskan Mal dari kenangannya.

saat Fischer berhasil kembali ke mimpi layer 3. Cobb menyadari bahwa Saito (layer mimpi 3) mati, sehingga dia harus menemukannya di Limbo dan kemudian film ini kembali pada scene paling pertama, yaitu: Cobb terdampar di pantai dan bertemu Mr.Saito tua.

#4 Speculation
Jadi, sebenarnya misi insepsi ide berhasil dilaksanakan atau tidak? menurut spekulasi saya: "IYA. Berhasil".

Perkataan Maurice di rumah sakit, kombinasi safe box, isi safe box yang adalah mainan masa kecil Fischer, merupakan rangkaian dari proyeksi yang dibuat oleh Cobb,dkk agar ide awal "saya akan menghancurkan kerajaan Ayah saya" berganti sebagai "apapun yang saya lakukan kelak, harus bersumber dari keinginan sendiri, bukan meniru Ayah". yup. Transformasi Bahasa Emosi yang cerdas! saya yakin, Fischer akan menyadari bahwa ide itu berasal dari diri sendiri/Ayahnya. bukan karena insepsi!

#5 Speculation

Bagaimana dengan akhir cerita?
sebelum mengarah ke sana, pasti kita sepakat bahwa saat Cobb, Arthur, Ariadne, Eames, Yusuf, Mr.Saito dan Fischer kembali terbangun di pesawat adalah REAL. dan masih di tempat yang sama, Mr.Saito kemudian membuat satu panggilan untuk membebaskan tuduhan Cobb.

Lalu bagaimana dengan Airport?
Saya berspekulasi itu juga real. walaupun ada sedikit aneh, kenapa tiba-tiba Ayah Cobb bisa datang menjemput. Apakah saat di pesawat juga, Cobb menghubungi sang Ayah untuk minta dijemput? mungkin saja.
dan.. ketika di rumah?
Saya berspekulasi ini REAL. baju James dan Filippa yang sama dengan berbagai proyeksi Cobb dalam setiap mimpi dan kenangannya, Totem yang terus "terlihat" berputar, saya pikir itu adalah akal-akalan Mr. Nolan untuk mengecoh kita.

karena jika dilihat lebih jelas, rambut Filippa di bagian akhir ini terlihat lebih panjang, selain itu tinggi badan James dan Filippa sepertinya lebih tinggi dari proyeksi-proyeksi sebelumnya. dan jika dicek di IMDB, ternyata cast untuk James dan Filippa memiliki 2 orang yang berbeda. yaitu yang memerankan James berumur 20 bulan dan 3 tahun. serta yang memerankan Filippa untuk umur 3 tahun dan 5 tahun.

selengkapnya di sini: Inception's Casts

saya juga baru menyadari ini setelah nonton yang ke-2 kali kok :p

ada juga yang bilang sepatu yang dikenakan James dan Filippa saat akhir film berbeda dengan proyeksi sebelumnya, sayangnya itu luput dari perhatian saya.

Tapi apapun itu, salut yang luar biasa untuk Mr. Nolan. ide yang terendapkan 10 tahun berhasil divisualisasikan begitu cerdas. dan memang sesuai dengan tag line film ini: "Your Mind is the Scene of the Crime".

setiap penonton pasti akan memiliki spekulasinya masing-masing, karena tempat kejadian semua film ini, sesungguhnya ada di dalam kepala masing-masing penonton.

Bravo, Mr. Nolan! Anda Hebat!



read more “INCEPTION. Your Mind is the Scene of the Crime. (2)”

INCEPTION. Your Mind is the Scene of the Crime. (1)


saya telah berjanji pada awalnya, bahwa tidak akan menulis review tentang "INCEPTION". tapi sayangnya Mr. Nolan terlanjur menginsepsi ide cerita film ini di alam bawah sadar saya, sehingga saya amat ikhlas untuk menonton film ini 2 kali dan akhirnya menggerakkan jari-jemari untuk menulis.

dan sebelum sedikit review/spekulasi/kebingungan/whatever *you name it* tentang film ini, saya ingin menceritakan sinopsisnya yang didasarkan pada 'versi saya'. tentu saja tanpa maksud kesengajaan ingin merusak keingintahuan teman-teman yang belum/akan menonton film ini.

>>SINOPSIS
Film ini bercerita tentang proses penanaman (inception) sebuah ide dalam pikiran seseorang dengan cara yang sangat brillian dan 'halus', sehingga si empu akan menyadari seolah-olah ide itu datang dengan sendirinya/hasil pemikirannya sendiri.

Dom Cobb (Leonardo Dicaprio), Extractor terbaik yang pernah dimiliki perusahaan Cobol, selalu berhasil 'mencuri' ide-ide seseorang dengan memasuki alam mimpinya. bukan dengan tipuan semacam Hipnotis, tapi ya! melalui alam bawah sadar seseorang. Namun sayang sekali, ketika hendak mencuri ide dari Mr. Saito (Ken Watannabe), Cobb dan kawan-kawan gagal menjalankan misinya, sehingga Cobb menjadi buronan utama dari Perusahaan Cobol untuk dibunuh.

Alih-alih mendendam pada Cobb, Mr. Saito malah memberikan tawaran menarik. Ia menyewa Cobb untuk menanamkan sebuah ide pada ahli waris (Robert Fischer, Jr) dari kompetitor terbesarnya. Harapannya, Robert Fischer,Jr (Cillian Murphy), memiliki 'langkah yang berbeda' dari Ayahnya dalam memimpin Perusahaan sehingga Mr. Saito menjadi Perusahaan yang lebih unggul dari perusahaan Fischer.

Cobb kemudian menyetujui tawaran tersebut, karena Mr. Saito berjanji akan memberikan reward yang selama ini dia idam-idamkan. KEBEBASAN untuk kembali ke keluarganya di Amerika, tanpa ada lagi tuduhan pembunuhan yang selama ini menghantuinya.

Ya. dibalik pengejaran oleh perusahaan Cobol, Cobb ternyata memiliki riwayat tuduhan sebagai pembunuh Istrinya sendiri, Mal (Marrion Cotillard).

>>REVIEW
Menit-menit pertama dari film ini merupakan kumpulan scenes yang berlompat-lompat. Proyeksi dari mimpi dalam mimpi.

Awal menonton pastinya membingungkan. Tapi jangan khawatir, karena ini bagian dari adaptasi memahami film. Cerita akan menjadi lebih jelas, ketika Cobb, Arthur (Joseph Gordon-Levitt), Nash (Lukas Haas), dan Mr.Saito bersama-sama berada di dalam kereta. dan ide cerita dari film ini juga akan semakin jelas ketika Mr. Saito memberikan tawaran kerja sama pada Cobb.

... dan dari kerja sama inilah, cerita tentang "Inception" sesungguhnya dimulai.

dari film ini, saya sepakat untuk mengatakan bahwa Leonardo Dicaprio menunjukkan penampilannya yang terbaik. karakter yang dibangunnya kuat dan dewasa. emosi yang ditunjukkannya pun sesuai. kebingungan, kehilangan, rasa bersalah, kerinduan akan keluarga, semua diperankan dengan baik. dan sebagai peran utama, dia memiliki porsinya dengan pas. tidak selalu monoton dirinya, tapi memang dia lah orang penting dalam film ini.

selain Leonardo Dicaprio, ada 2 orang lagi yang memberikan pengaruh banyak di film ini. Mal, istri Dom Cobb dan Mr. Saito. Jika menilik film Nine, unsur manis dan penuh kasih sayang tidak ditampilkan oleh Marion Cotillard dalam film ini. Yang menonjol adalah sikap kebingungan dan posesif. sedangkan, Mr.Saito, akting sebagai Chairman dalam Memoirs of Geisha sedikit banyak hampir mirip. Tetap "berkelas", berwibawa dan berkuasa.

saya juga suka aktingnya Joseph Gordon-Levitt (Arthur). Mengingatkan saya dengan perannya di 500 Days of Summer. aksesoris yang digunakan masih sama, yaitu; Tas Selempang warna coklat. Kemampuan aktingnya juga lebih baik, pesan tentang karakter dirinya yang penuh sifat hati-hati, terkadang pesimis, keteraturan, dapat tersampaikan dengan baik.

tapi sesungguhnya saya mengidolai Eames, yang diperankan oleh Tom Hardy. sikap "breaking the rules", penyamaran-penyamaran uniknya, cara bicara yang 'agak' brutal, dan ide-ide spontan yang dilakukan olehnya, semakin memperkuat karakternya.

dan terakhir:
Cristopher Nolan, sang Director, Writer, Producer, Cinematographer dari film ini. kembali sukses dengan karyanya yang luar biasa. sungguh Jenius!

setiap scene yang dibuatnya sangat rapi, sampai-sampai efek animasi/komputerisasi/apalah itu namanya tidak tertangkap oleh mata awam saya.

Scene yang paling keren menurut saya adalah saat Joseph Gordon-Levitt berada dalam kondisi gravitasi nol. awalnya saya pikir itu adalah permainan teknologi animasi atau semacamnya. ternyata obsesi Nolan untuk menghadirkan sesuatu yang lebih real, dilakukannya dengan konvensional, yaitu dengan membuat suatu scene/tempat yang dapat diputar 360 derajat dan permainan kamera. penjelasan lebih lengkap, saya dapatkan dari link berikut:

Questioning Reality with Joseph Gordon-Levitt

Intinya, Cristopher Nolan benar-benar pencipta film keren. Ide cerita dan pengemasan filmnya luar biasa. Alur cerita yang berlompat-lompat, "simbol-simbol" yang digunakan, visualisasi yang "menipu" memberikan kesempatan bagi penonton untuk berpikir dan berspekulasi yang seluas-luasnya. sehingga durasi film yang menyita 2,5 jam tidak terasa membosankan sama sekali.

Okay, mungkin kecuali sedikit bagian antara Cobb (Leonardo Dicaprio) dan Mal (Marrion Cotillard) pada scene menjelang akhir film yang banyak bercakap-cakap membuat saya sedikit bosan. Tapi overall, film ini menakjubkan.

Film terbaik sepanjang tahun 2010. at least hingga bulan Juli ini.

Score: 9,5/10.







P.S: Sedikit spekulasi saya tentang "apa yang ada di dalam" Inception, ada di sini. Inception Part 2
read more “INCEPTION. Your Mind is the Scene of the Crime. (1)”

Friday, July 16, 2010

Solitude.


Oxford English Dictionary defines "Solitude" as the state or situation of being alone. another Dictionary also defines similar meaning, which is A lonely or secluded place. while me, humbly say "Solitude" as high quality time with our-own-selves which is made under fully conscious emotional feeling.

technically, no body wants to be lonely.
at least, Ricky Martin and Christina Aguilera have proven those words in their song.
but I do believe that we are all same.
we are afraid of being lonely.

the warmth of best friends, the hospitality of strangers, the various characteristics of people, the laugh makers from indescribable jokes, and also the nature of human being are completely reasons which take huge responsibility in making us as social creature. no wonder if we do love to get involving in many communities, organizations, activities or any labels of social life.

but, have you ever tried to be Solitude?
*not every single day, of course. just sometimes.

you give your time for yourself. alone.
you live in your own rotation.
you'll be hotter than they ever known.
you walk alone on Saturday Night without mate.
you please yourself to watch a movie at Cinema together with your shadow.
you enjoy a dinner in luxurious Restaurant without sharing table with others.
you traverse a bookcase to another just to feed your brain up.
you shop shirts, blouse, party dress without hesitating to spend much time. yeah. nobody's waiting. nobody will be bored.
but, magically, no tears there.
just the big smile is painted on your face.

yup!

Solitude is a precious time for yourself.

but don't worry, because you still have abilities to talk, touch, mess up, laugh, cry, listen though you are alone.

the miracles when you're in Solitude Phase?
I honor to share with you!

You can talk to yourself freely without any existence of people's thoughts.
You speak to your brain about encouraging your knowledge.
You listen to your heart about Faith and live for it.
You clean your ears from negative speech from uneducated people.
You brush your mouth from useless or curse words which may hurt others.
You wash your feet from uninvited imprints.
You move your hands to touch imaginary life.
and You look into yourself to judge whether you're right or wrong as a human. Fairly.


see?
being Solitude is not Loneliness.
'Cause being Solitude is a Choice.
not caused by Fate.

just try to be Solitude sometime.
I bet you will be addicted.
you will adore yourself more.
yet you will say thanks to God because He has created you.
The only one you.


respect yourself. respect others.


read more “Solitude.”

Thursday, July 15, 2010

Selingkuh.


Kata-kata romansa sedang tidak sejalan dengan Otak. Otak selingkuh dengan Logika. Otak hanya berfikir Logika. Kata Romansa dimasukkan gudang.

Jari-jemari terkena imbas, tidak lagi menulis kisah klasik manusia berikut dengan bumbu percintaan atau filosofi embun pagi.

Jari-jemari hanya menulis kata hasil perkumpulan ide banyak orang. Menggenggam berbagai peralatan ilmiah. Melahirkan ide baru. serta Mengebiri teori konvensional tak layak pakai.

Mata tak kalah terkena dampak. Harus setia melihat spora-spora jamur bertebaran. Jamur yang terkadang nakal. Menggerogoti perencanaan yang tersusun rapi.

Kaki juga berjalan lebih dari 10.000 langkah sehari. Bergerak maju tanpa ragu. Atau mundur teratur. Bukan karena takut kalah. Hanya supaya tidak salah langkah.

"Karena langkah putar balik itu buang waktu, Jenderal!" teriak Kaki.

Telinga juga membeli kulit baru. Yang lebih tebal dan fleksibel. Cukup sudah dengan suara-suara sumbing tak bertanggung jawab dan bersarang menjadi serumen patogen. kali ini bermimpilah kalian! karena tidak ada lagi yang diijinkan masuk!

Mulut juga lebih banyak diam. Rupanya ia ingin mendulang Emas. Terlebih semenjak pepatah 'diam itu emas' menjadi 'suatu kebutuhan' lagi.

Ya. Kata-kata romansa memang sedang tidak sejalan dengan Otak. Otak selingkuh dengan Logika. Otak hanya berfikir Logika. Otak mengkudeta Hati. Kata Romansa ditinggal sendiri.

Tubuh? hanya geleng-geleng tak berdaya.

Tak satupun dapat diselamatkannya. Jari-jemari, Mata, Kaki, Telinga, Mulut bahkan Hati telah dipengaruhi Otak. semua sepakat menomorsatukan Logika.

namun, Otak tidak akan pernah merasa berdosa. karena perselingkuhan ini memang dinanti.






P.S: Semacam racauan di tengah berbagai lompatan ide di kepala.
read more “Selingkuh.”

Wednesday, July 7, 2010

Luka Mimpi.


Mimpiku terbalut luka. sedikit berdarah tapi tidak bernanah.
Mimpiku suka bermain dengan Pisau. pikirnya, itu senjata.
Mimpi terlalu naif. Mimpi salah.
Pisau melukai mimpi, bukan menakuti Pesimistis.

Mimpiku terbalut luka, teriritasi di bagian kulit ari.
Tidak perlu operasi, tapi pasti meninggalkan bekas koreng.

Mimpiku terbalut luka. Tidak akan membuat mati,
Hanya akan memperkuat persekutuan antara Mata dan Air Bening.
Ya. Kau tahu kan?
Air Mata.
Hasil persekutuan wajar ketika mimpi tengah terluka.

Mimpiku terbalut luka. Dia manja.
Perban kasih sayang tidak cukup menyembuhkan.
Satu botol obat merah kepercayaan, menguap tak tersisa.
Pil kata-kata manis ditelan begitu saja. "Hambar", katanya.

Mimpiku terbalut luka.
Otakku membiarkannya.
Hatiku merangkulnya.

"Tak ada salahnya merasa sedikit luka" Otak bergumam.
"Luka dan Kesembuhan sudah berikatan sehidup semati. Maka, tenang saja." Hati berkata.

Jika begitu, beristirahatlah sejenak Mimpi.
Tidurlah dalam damai.
Lupakan balas dendam.
Pisau yang melukaimu, mungkin sedang khilaf.





P.S: Mimpi = Mendaki Semeru 9 Juli 2010.
P.P.S: Mimpi yang batal diwujudkan.
read more “Luka Mimpi.”