Friday, January 14, 2011

Pengakuan Resmi.


Hai Arjuna,
Tak keberatan kan jika aku sebut seperti itu?
Satu, karena aku memang menyukai Dewi Srikandi. Wanita gagah berani dengan bekal panah Hrusangkali di tangannya.
Dua, dan karena aku jatuh cinta pada Dewi Srikandi, sudah dapat dipastikan bahwa aku juga akan jatuh cinta pada nama Arjuna.
Untuk itu, kau akan ku panggil Arjuna.

Oh ya, jangan terlalu memasukkan dalam hati perihal banyak mitos yang berkembang tentang Arjuna dan Srikandi.
Ahli sejarah banyak yang mengemukakan bahwa Srikandi melakukan segala cara untuk mendapatkan Arjuna,
termasuk merebutnya dari hati orang lain.
Tapi Srikandi yang ini berbeda.

Hanya jatuh padamu dalam diam.
Dalam segenap bunga matahari yang mekar dalam hati.
Dalam segerombolan kupu-kupu yang terbang menyesakkan perut.
Dalam pipi yang bersemu merah.
Diam-diam.

Jangan pernah bertanya kapan pula kita pertama kali bertemu.
Itu adalah permainan semesta.
Dimensi waktu kita disinggungkan tanpa pernah aku rencanakan.
Tanpa pernah kamu rencanakan.
Tanpa pernah kita rencanakan.

Satu yang pasti, kita hanya pernah bersua wajah dua kali.
Tapi itu cukup bagiku. Untuk merekam betapa tegasnya garis wajahmu.
Atau betapa pelitnya senyumanmu.
Iya. Kamu sungguh-amat-sangat-pelit untuk tersenyum.
Dan juga pelit berbicara.

Tapi kemudian, siapa yang peduli?
Jika hati yang jatuh padamu?

Ah. sudahlah.
Lebih baik aku menyudahi saja surat ini.
Sebelum jantung ini copot saking banyak berdetak tak karuan.


Aku,
Dewi Srikandi.


PS: Jangan marah, jika aku jadi lebih sering memperhatikanmu. diam-diam.



*Ini proyek #30harimenulissuratcinta gagasan @perempuansore dan @ekaOtto di Twitter. Hati-hati saja, mungkin aku akan menulis untukmu <3

3 komentar:

Edutria said...

Sukaaa... :D

*pernah sih ngalamin hal yang seperti ditulis itu* #eh

Dewi Srikandi said...

makasih Edu. sebenarnya yang ditulis ini yang dialami sih.
#ehh
:)))

farid neldi putra said...

ditunggu kak, posting2 selanjutnya.....