Saturday, September 26, 2009

Berawal Dari Perempuan


Tergelitik ketika melihat iklan sebuah produk kecantikan di televisi. Iklan yang salah satu tag line-nya adalah "Kekuatan Suatu Bangsa Berawal dari Perempuan".

Yup. Saya sangat setuju. Bukan karena saya perempuan ya. Lantas kemudian mengagungkan tag line tersebut dan mengesampingkan para pria. Tidak! Tidak! hanya saja kata-kata itu tepat adanya.

Kenapa? Mari kita sedikit menyelami analisis saya yang mungkin super ngawur ini ^^

Kita semua sudah sangat mahfum, bahwa perempuan diberi kodrat untuk mengandung dan dari rahim mereka pula lah, putra putri anak cucu Adam dilahirkan. Tidak mudah sama sekali memang ketika dalam masa mengandung. Setidaknya itu yang saya ketahui dari ibu-ibu hamil yang saya kenal. Mereka harus begitu konsen dengan apa yang mereka lakukan dan memastikan bahwa apa yang mereka usahakan telah mampu memenuhi kebutuhan Ibu dan sang calon bayi. Tentunya dalam hal ini sang Ibu harus memiliki pengetahuan yang cukup agar dapat memberkan yang terbaik.

Tentang nutrisi, sang Ibu setidaknya harus mendapatkan asupan minimal 2500 kalori setiap hari, dengan kebutuhan protein 85 g/hari, kalsium 1,5 g/hari, zat besi 30 mg/hari, asam folat 0,4 mg/hari, plus ditambah vitamin-vitamin lainnya. Ibu pun harus mengetahui dengan cermat bagaimana pola hidup yang sehat. kebutuhan tidur, olahraga, bekerja, baik itu dari trimester pertama hingga ketiga, sehingga harapannya dapat memberikan kesehatan fisik yang baik terhadap sang bayi. Salah sedikit saja, mungkin dapat membahayakan keduanya.

Lalu bagaimana dengan kesehatan psikis sang bayi?

Sudah tidak asing bagi kita semua, jika banyak kegiatan baik yang dapat merangsang sistem saraf motorik bayi. Mendengarkan musik klasik, gerakan mengelus tanda sayang dari sang Ibu, atau kegiatan Ibu yang membacakan cerita dan mengajak ngobrol si jabang bayi semuanya dilakukan agar anaknya kelak memiliki kepekaan terhadap lingkungan, kecerdasan emosional dan kecerdasan intelegensi yang baik.

Saya jadi teringat ketika melihat seorang Ibu yang mulai mengenalkan TUHAN pada sang anak ketika masih berada dalam kandungan. Tidak jarang Ibu itu menceritakan kisah para nabi dan rasul, kemudian setiap akan melakukan sesuatu, Ibu senantiasa mengajak berbicara si bayi untuk berdoa terlebih dahulu. Dan yang luar biasanya adalah sang bayi memberikan respon menyerupai gerakan "menendang" perut Ibunya. ya ya ya! sepertinya bayi itu mulai mengerti maksud Ibunya. Saya yang melihat hanya bisa terpana takjub sambil berdoa dalam hati agar kelak anaknya dapat menjadi pribadi yang akan selalu berjalan ke arahNYA. Jika begini adanya, maka benar adanya pepatah yang mengatakan "ilmu itu dapat dikejar sejak dalam rahim hingga liang lahat".

Sekali lagi saya sangat bersyukur karena diberi kesempatan untuk menyaksikan "keajaiban-keajaiban" dari Ibu dan Anaknya. Memang, ternyata ada hasil yang berbeda dari perjuangan Ibu yang "sangat konsen" dengan pendidikan anaknya dan perjuangan Ibu yang mungkin "kurang begitu konsen" terhadap pendidikan anaknya. Tidak usah dilihat dari hal yang besar seperti pola pikir atau semacamnya, tapi hal kecil seperti: mengucapkan salam ketika masuk rumah, berkata terimakasih ketika dibantu atau diberikan sesuatu, membaca doa sebelum melakukan sesuatu, berkata maaf ketika berbuat salah, hal-hal kecil inilah yang kemudian menjadi cikal bakal dari "kecerdasan emosional" yang kita tahu itu sangat mahal harganya.

Dan jika bukan karena kerja keras Ibu, maka bagaimana hal itu dapat tercapai?

Mungkin, saya adalah orang yang berpikiran masih cukup kolot. Masih meyakini bahwa lembaga pendidikan yang paling dasar dan utama dari keluarga. Lingkungan, Lembaga Pendidikan resmi, teman-teman ataupun pengalaman hidup, saya pikir hanyalah unsur penambah dan penguat dari "ilmu dasar" yang diperoleh dalam keluarga. Dan dengan ilmu itulah, kelak para putra-putri ini yang kemudian memiliki tanggung jawab besar. Generasi Penerus Bangsa. Jika benar mereka dididik, maka hampir besar kemungkinannya mereka akan menjadi "orang yang benar" pula.

Jadi, apakah kekuatan suatu bangsa berawal dari perempuan? saya masih dengan lantang menjawabnya "IYA!" ^^

5 komentar:

andie said...

hehe. walaupunb bingung, ku coba untuk mengoment. halah.

ya. wanita bisa juga jadi penghancur sebuah negara juga lho.
heheh

sebuah koment ga mutu. nih.
gawat.
mendingn ngacir dah.

lilliperry said...

kalo berawal dari perempuan, saya kurang setuju..
tapi memang pemakaian kata banyakan memakai embel2 perempuan seperti ibu pertiwi, ibu kota dll..

saya lebih setuju kalo dikatakan perempuan punya andil yang besar dalam membangun kekuatan suatu bangsa

btw salam kenal ya.. saya nyasarkesini... hehehe

denny said...

ya setuju,
krn di rumah juga kalo gak ada mama itu sepi
gak ada yg ngomel
gak ada yg bilang gini gitu
yahh begitulah,

QueeniieAngeLa said...

@ andie,, yup! ingat kisah chleopatra dan antony kan? sukses juga tuh wanita menghansurkan suatu bangsa!

@ lilliperry,, yes. you may say that, bro! :D and terimakasih karena sudah nyasar ke sini! :D

@ denny,, hahahaha. jadi inget mama di rumah juga sering ngomel2! hehehe..

Ginko said...

Iya, bahkan dalam agama Islam wanita sangat dimuliakan. Jadi ingat kisah seorang anak yang ingin berbakti pada ibunya sehingga dia menggendong ibunya kemana-mana hingga beberapa bulan. Saat bertanya pada Rasulullah mengenai perihal berbakti yang dia lakukan itu, Rasulullah malah bertanya "Apakah ada darah yang keluar dari kakimu saat menggendong ibumu?", "Tidak ya Rasulullah".

"Maka baktimu belum sebanding dengan darah yang keluar saat ibumu melahirkanmu dan air susu yang keluar untuk menghidupimu"

Isn't that beautiful?